Janji Suci di Bawah Atap Jati
Tiga bulan kemudian, sebuah akad nikah yang sederhana namun penuh khidmat digelar di masjid jami dekat rumah keluarga Rissa. Tidak ada pesta mewah yang bising atau deretan karangan bunga yang memenuhi jalanan. Yang ada hanyalah keluarga dekat, beberapa rekan guru dari sekolah, dan puluhan murid dari ruang 10-D yang datang dengan seragam batik sekolah mereka, memenuhi area belakang masjid dengan wajah-wajah ceria penuh haru.
Maman duduk di hadapan Abah Surya dengan mengenakan jas putih sederhana yang pas di badannya. Di sampingnya, Rissa tampak sangat cantik dan anggun dengan kebaya putih polos dan kerudung senada tanpa hiasan berlebihan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Hayya Clarissa Wisesa binti Surya Wisesa dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ucap Maman dengan satu tarikan napas yang mantap, lantang, dan penuh keyakinan yang menggetarkan ruangan masjid.
"Sah?" tanya penghulu kepada para saksi.
"Sah! Alhamdulillah..." sahut para hadirin serempak.
Air mata haru dan bahagia mengalir di pipi Maman dan Rissa saat mereka menadahkan tangan, memanjatkan doa bersama di bawah kubah masjid yang tenang.
Setelah prosesi akad nikah selesai, murid-murid dari ruang 10-D langsung merangsek maju dengan heboh, memberikan ucapan selamat kepada guru idola mereka dengan gaya bahasa khas Gen Z mereka yang kasual namun penuh ketulusan.
"Gokil, Pak Maman! Akhirnya sah juga! Vibes-nya bener-bener menyala abisku!" teriak Dito sambil menyalami Maman dengan heboh.
"Iya nih, Pak! Bu Rissa bener-bener slay abis hari ini, cantik parah! Tolong dijaga ya Pak guru idola kami ini, jangan sampai baperan lagi di kelas," timpal Keysha sambil tertawa lepas bersama teman-temannya.
Maman dan Rissa tertawa bahagia, menyalami anak-anak itu satu per satu dengan rasa terima kasih yang mendalam. Di sudut masjid, Abah Surya berdiri sambil tersenyum puas, memandang menantu barunya yang kini tampak begitu bahagia dan berenergi di tengah-tengah orang yang mencintainya.
Sore harinya, Maman dan Rissa melangkah masuk ke dalam rumah baru mereka—sebuah rumah keluarga kecil bergaya minimalis yang asri dengan halaman depan yang ditumbuhi tanaman hijau yang menyegarkan mata. Di dalam ruang tamu, seluruh perabotan kayu jati terbaik buatan pabrik Abah Surya telah tertata rapi, memberikan kesan hangat dan kokoh.
Di sudut teras rumah, bersandar dengan anggun sebuah sepeda onthel tua yang rantainya kini telah dibersihkan dan diberi pelumas baru hingga tampak mengkilap. Sepeda itu sengaja dibawa oleh Maman ke rumah baru mereka—bukan lagi sebagai simbol kemiskinan yang menyedihkan, melainkan sebagai monumen sejarah perjuangan, kesabaran, dan ketulusan yang telah membawanya sampai ke titik terindah dalam hidupnya.
Maman menggandeng tangan Rissa erat-erat, menatap langit senja yang mulai meredup dari teras rumah baru mereka.
"Terima kasih telah menemukanku di sela-sela debu jalanan, Rissa," bisik Maman lembut, matanya memancarkan kedamaian yang mendalam.
Rissa menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Maman, menghirup aroma ketulusan yang selalu terpancar dari suaminya itu. "Terima kasih telah tetap menjadi manusia yang jujur dan taat, Maman. Bersamamu, aku tahu perjalanan ini akan selalu mengarah ke surga-Nya."
Matahari sore perlahan tenggelam di balik cakrawala,
meninggalkan semburat warna jingga yang hangat di langit kota.
Di bawah atap baru yang penuh berkah dan doa,
dua jiwa kini melangkah bersama dalam satu nada cinta yang abadi.
*** TAMAT ***

Posting Komentar
Silakan ikuti blog ini terlebih dahulu jika ingin berkomentar!