Kembali ke Nol (cerpen kehidupan)
Selama lima belas tahun, Baskoro adalah definisi dari seorang "pegawai teladan yang tak kasat mata". Di Kantor Wilayah Pelayanan Publik itu, ia memulai kariernya sebagai staf administrasi biasa. Mejanya paling pojok, tumpukan berkasnya paling tinggi, dan kemeja batiknya itu-itu saja hingga warnanya sedikit memudar di bagian kerah.
Baskoro adalah musuh utamanya para calo dan rekan kerja yang gemar "main belakang". Di lingkungan yang terkadang menganggap uang pelicin sebagai oli pembangunan, Baskoro berdiri sekokoh karang.
"Baskoro, ini ada sedikit tanda terima kasih dari kontraktor tender kemarin. Ambil saja, buat jajan anakmu," bisik Miko, seniornya, suatu siang sambil menyodorkan amplop cokelat tebal ke bawah meja.
Baskoro menghentikan ketikannya. Ia menatap amplop itu dengan tatapan muak, lalu mendorongnya kembali. "Maaf, Mas Miko. Gaji saya sudah cukup untuk beli jajan anak saya. Kalau Mas Miko terus begini, saya laporkan ke Ombudsman."
Sikap kaku Baskoro membuatnya dijuluki "Si Sok Suci". Ia kerap disisihkan dari pergaulan kantor. Namun, Baskoro tidak peduli. Di rumah kontrakannya yang sederhana, ia disambut oleh Rahma, istrinya yang bersahaja, serta dua anak mereka yang masih kecil: Lisa dan bayinya, Doni.
Setiap malam, sebelum tidur, Baskoro selalu membisikkan hal yang sama pada istrinya, "Biar kita makan nasi pakai garam, Rahma, asalkan itu halal. Aku tidak mau memberi makan anak-anakku dengan uang haram."
Rahma mengangguk tulus saat itu. Senyumnya manis tanpa pulasan kosmetik mahal. Kehidupan mereka damai dalam keterbatasan.
*
Kerja keras, kejujuran, dan dedikasi Baskoro akhirnya membuahkan hasil ketika angin reformasi birokrasi berembus kencang. Pemerintah membutuhkan figur yang bersih untuk memimpin lembaga tersebut demi membersihkan nama instansi dari rapor merah korupsi. Baskoro, dengan rekam jejaknya yang seputih kain kafan, dipromosikan secara kilat.
Dalam waktu tiga tahun, ia melompati beberapa eselon hingga akhirnya dilantik menjadi Kepala Wilayah Utama. Ia kini memimpin ribuan pegawai. Ia adalah simbol pemberantasan korupsi di instansinya. Spanduk besar bergambar wajahnya dengan jargon "Katakan Tidak pada Pungli dan Korupsi" terpajang di lobi utama.
*
Namun, semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya. Jabatan baru membawa Baskoro ke lingkaran kekuasaan yang sesungguhnya. Ia kini memegang otoritas penuh atas proyek-proyek bernilai ratusan miliar rupiah.
Godaan tidak lagi datang dalam bentuk amplop cokelat tipis, melainkan tas koper berisi dolar, kepemilikan saham kosong, hingga janji-janji kemudahan bisnis. Di bulan-bulan pertama, Baskoro bertahan. Ia menolak semua itu dengan tegas.
Namun, benteng pertahanannya mulai retak justru dari dalam rumahnya sendiri.
Suatu malam, Rahma mengeluh. "Mas, masa sebagai istri Kepala Wilayah, aku datang ke arisan dharma wanita cuma pakai tas kain dan motor matic? Aku malu, Mas. Istri-istri bawahannmu saja perhiasannya mentereng, tasnya bermerek. Mereka berbisik-bisik di belakangku."
Baskoro terdiam. Ada rasa bersalah yang menusuk hatinya melihat wajah istrinya yang murung.
Hari berikutnya, seorang pengusaha kontraktor bernama dodi datang ke ruang kerjanya. Dodi tidak menyodorkan uang, melainkan sebuah kunci mobil dan sertifikat rumah atas nama Rahma.
"Pak Baskoro, ini bukan suap. Ini hanya investasi persahabatan. Lagipula, tidak akan ada yang tahu. Sistemnya sudah kita rapikan lewat pihak ketiga," bisik Dodi lembut, bagai bisikan ular di taman surga.
Baskoro menatap kunci itu. Bayangan wajah istrinya yang sedih, bayangan masa depan anak-anaknya yang terjamin, dan pemikiran keliru bahwa "aku sudah menderita belasan tahun, sekarang waktunya menikmati" mulai meracuni pikirannya. Dengan tangan bergetar, Baskoro mengambil kunci itu.
Satu langkah kecil ke dalam kegelapan, dan pintu neraka pun terbuka lebar.
Sejak hari itu, prinsip Baskoro runtuh berkeping-keping. Ia yang seharusnya menjadi ujung tombak pemberantasan korupsi, justru menjadi arsitek di balik kebocoran anggaran terbesar di instansinya. Uang mengalir deras ke rekening-rekening samaran miliknya.
Perubahan itu langsung mengubah total dinamika keluarganya.
Rahma, wanita yang dulu mengucek baju dengan tangan, bertransformasi menjadi sosialita papan atas dalam sekejap. Penampilannya berubah mencolok. Kulitnya yang dulu kusam kini putih bersinar berkat perawatan klinik kecantikan bernilai puluhan juta rupiah. Jemarinya dihiasi cincin berlian berukuran besar, dan lengannya selalu menenteng tas Hermes atau Chanel edisi terbatas. Gaya bicaranya bergeser, penuh dengan pameran harta dan kesombongan saat berkumpul dengan lingkaran barunya.
Anak perempuan mereka, Lisa, yang kini beranjak remaja, kehilangan kesederhanaannya. Lisa yang dulu rajin belajar di kamar, kini menjelma menjadi gadis malam. Didukung oleh uang jajan tak terbatas dari ayahnya, Lisa menjadi langganan klub-klub malam mewah di ibu kota. Ia kerap pulang menjelang subuh dalam kondisi mabuk bersama teman-teman sosialitanya, menghamburkan uang puluhan juta dalam semalam hanya untuk memesan meja VVIP dan minuman beralkohol mahal.
Sementara itu, Doni, anak laki-laki mereka yang masih duduk di bangku kuliah, juga ikut gila harta. Meski belum memiliki penghasilan sendiri, garasi rumah mewah baru mereka kerap bergonta-ganti mobil sport dan SUV mewah—mulai dari Porsche hingga Rubicon. Ketika teman-temannya bertanya dari mana uangnya, Doni hanya menjawab dengan angkuh, "Gampang, tinggal minta bokap."
*
Kemewahan yang terlalu mendadak dan mencolok itu tentu saja mengundang mata yang mengawasi.
Di lingkungan perumahan elite tempat mereka baru pindah, beberapa tetangga mulai menaruh curiga. Pak RT dan beberapa warga senior sering berbisik saat melihat mobil-mobil mewah keluar masuk rumah Baskoro, atau saat melihat Rahma turun dengan pakaian yang terlalu glamor hanya untuk sekadar ke supermarket terdekat.
"Pekerjaan Pak Baskoro kan PNS, ya? Walaupun kepala wilayah, masakan bisa beli mobil sport baru tiap tiga bulan? Istrinya juga pamer berlian terus di media sosial. Agak tidak wajar," bisik Bu Retno tetangga sebelah rumah kepada warga lain saat kerja bakti—yang tentu saja tidak pernah dihadiri keluarga Baskoro.
Kecurigaan yang lebih tajam datang dari kantor. Rekan-rekan kerja lama Baskoro, yang dulu menghormatinya karena kejujurannya, mulai mencium bau busuk. Kebijakan-kebijakan Baskoro dalam memenangkan tender proyek terasa sangat dipaksakan dan tidak transparan.
Miko, yang kini menjadi bawahannya, tersenyum sinis setiap kali melihat Baskoro berpidato di podium tentang integritas. "Dulu sok suci, sekarang ternyata lebih rakus dari kita semua," gumam Miko pada rekan sebelahnya. Informasi mengenai gaya hidup tidak wajar keluarga Baskoro mulai mengalir ke telinga para pengawas internal dan lembaga antirasuah.
Namun, Baskoro yang sudah dibutakan oleh kekuasaan dan harta merasa dirinya tak tersentuh. Ia merasa sistem yang dibuatnya sudah terlalu rapi untuk ditembus.
*
Hari kejatuhan itu datang tanpa peringatan, persis seperti pencuri di malam hari.
Kamis sore yang mendung, Baskoro sedang berada di sebuah hotel bintang lima bersama Dodi dan beberapa pejabat kementerian untuk mematikan komitmen fee proyek pembangunan gedung diklat senilai Rp200 miliar. Di atas meja, terdapat koper besi berisi uang tunai pecahan seratus ribu dolar Amerika.
Saat Baskoro baru saja menandatangani dokumen kesepakatan rahasia, pintu suite hotel didobrak paksa. Belasan pria bermantel dengan tanda pengenal lembaga pemberantasan korupsi merangsek masuk, diikuti sorot lampu kamera wartawan yang entah bagaimana sudah mengendus pergerakan mereka.
"Jangan bergerak! Kami dari Satgas Penindakan. Anda kami tangkap atas dugaan tindak pidana korupsi!" pekik salah seorang petugas.
Wajah Baskoro seketika berubah pucat seputih kertas. Badannya lemas, seluruh sendinya seolah lolos. Kamera wartawan terus menjepret wajahnya yang dipenuhi keringat dingin. Ironi terbesar abad ini terpampang nyata: sang panglima antikorupsi tertangkap tangan menjadi koruptor.
Malam itu juga, rumah mewah Baskoro digeledah. Garasi mereka dipasang garis pembatas berwarna merah-hitam. Mobil-mobil mewah Doni disita dan diangkut dengan truk derek. Lemari pakaian Rahma dikosongkan, tas-tas bermerek dan perhiasannya disita sebagai barang bukti tindak pidana pencucian uang.
Rahma menangis histeris, memohon-mohon kepada petugas agar menyisakan hartanya, sementara Lisa yang baru saja bangun dengan kepala pening akibat sisa alkohol malam sebelumnya, hanya bisa menatap nanar ruang tamu mereka yang porak-poranda.
Dalam waktu dua puluh empat jam, kehormatan, harta, dan martabat keluarga Baskoro habis tak bersisa. Baskoro divonis hukuman lima belas tahun penjara dan seluruh kekayaannya disita oleh negara.
Dua tahun setelah ketukan palu hakim, kehidupan keluarga Baskoro benar-benar kembali ke titik nol—bahkan jauh lebih rendah dan kelam dari saat mereka masih tinggal di kontrakan sempit belasan tahun lalu.
Rahma, yang dulu dipuja-puja di lingkungan sosialita dan bertangan halus, kini harus menelan segala harga dirinya. Guna menyambung hidup dan membayar kontrakan petak di pinggiran kota yang kumuh, ia terpaksa bekerja sebagai pembantu rumah tangga keliling. Tangan yang dulunya dihiasi berlian puluhan karat, kini setiap hari harus mengucek baju kotor orang lain, membersihkan toilet, dan terkena cairan pembersih yang keras hingga kulitnya pecah-pecah dan kasar. Setiap malam, ia meratapi nasibnya di atas kasur tipis, teringat akan kesombongannya di masa lalu.
Nasib Lisa jauh lebih tragis. Terbiasa dengan gaya hidup mewah, dugem, dan lingkungan yang serba mahal, Lisa tidak sanggup menghadapi realitas kemiskinan. Ia enggan bekerja kasar, namun butuh uang untuk memuaskan ketergantungannya pada dunia malam dan gaya hidupnya yang telanjur rusak. Akhirnya, terjebak dalam utang dan keputusasaan, Lisa terjerumus ke dalam dunia kelam sebagai wanita panggilan kelas bawah. Ia menjajakan dirinya dari satu hotel melati ke hotel melati lainnya, kehilangan seluruh kehormatan diri yang pernah ia miliki sebagai putri seorang pejabat tinggi.
Sementara itu, Doni, si anak lelaki yang gagal mengendalikan ego dan gengsinya, berakhir di balik jeruji besi. Putus kuliah dan tidak lagi memiliki mobil mewah untuk dipamerkan membuat Doni menderita gangguan mental dan depresi berat. Suatu hari, saat berkunjung ke rumah salah satu teman kuliahnya yang kaya, sifat serakahnya kambuh. Ia nekat mencoba mencuri jam tangan mewah dan dompet milik temannya itu di kamar mandi.
Namun, aksinya ketahuan. Alih-alih meminta maaf, Doni yang panik dan emosional justru mengambil sebotol kaca pajangan dan menganiaya temannya secara brutal hingga korban mengalami koma dan gegar otak parah. Doni diringkus massa dan dijebloskan ke penjara dengan hukuman berat atas kasus penganiayaan dan percobaan pencurian.
Di dalam sel tahanan yang pengap dan dingin, Baskoro duduk termenung mengenakan rompi tahanan oranye yang kini menjadi pakaian sehari-harinya. Rambutnya telah memutih seluruhnya, wajahnya tampak jauh lebih tua dari usia aslinya.
Ia memandang keluar jendela berjeruji besi, menatap langit sore yang kelabu. Berita tentang kehancuran keluarganya—istrinya yang menjadi pembantu, anak perempuannya yang menjajakan diri, dan anak lakinya yang menyusulnya ke penjara—telah sampai ke telinganya seperti hantaman gada yang menghancurkan jiwanya.
Baskoro menangis tanpa suara. Air matanya menetes membasahi lantai semen yang dingin. Ia menyadari, korupsi yang dilakukannya tidak hanya mencuri uang negara, tetapi telah merenggut dan menghancurkan jiwa serta masa depan seluruh keluarganya hingga tak bersisa. Penyesalan itu kini datang, namun semuanya sudah terlambat. Istana pasir yang dibangunnya dari uang haram telah runtuh, menyisakan puing-puing penderitaan yang harus mereka tanggung seumur hidup.

Posting Komentar
Silakan ikuti blog ini terlebih dahulu jika ingin berkomentar!