Translate

Berita Terkini Antara News
Memuat berita...
Postingan Terbaru Basando
Memuat postingan...

Rekomendasi Artikel

Memuat postingan acak...

Cerpen: Kidung Rantai Karat dan Rahasia Kotak Makan (Bagian 3)




Kidung Rantai Karat dan Rahasia Kotak Makan

(Bagian 3)

 

 

Cerpen Menetap dalam Kesunyian

Hayya Clarissa: Sang Pengamat di Balik Kemudi Beat

Di ruang guru, di sudut yang agak terpisah dari hiruk-pikuk obrolan tentang arisan atau rencana liburan akhir tahun, duduk seorang guru muda berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN). Namanya Hayya Clarissa Wisesa, tapi semua orang memanggilnya Rissa. Sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang baru setahun diangkat, Rissa adalah sosok yang tenang, anggun, dan selalu tampil dengan kesederhanaan yang menenangkan hati.

 

Setiap hari, Rissa datang ke sekolah dengan mengendarai sepeda motor matic biasa yang warnanya sudah agak kusam. Pakaian dinasnya rapi namun tidak berlebihan, tanpa perhiasan mencolok atau tas bermerek yang biasa dipamerkan oleh beberapa rekan kerjanya. Rissa menerima gaji bulanan standar UMR yang bagi banyak orang di kota itu sudah lebih dari cukup untuk hidup mandiri dengan nyaman.

Namun, tidak ada satu orang pun di sekolah itu yang mengetahui rahasia besar di balik kesederhanaan Rissa.

 

Rissa adalah putri tunggal dari pemilik "Wisesa Furniture & Interior", salah satu raksasa industri mebel dan kerajinan kayu yang produk-produk ekspornya telah merambah pasar Eropa dan Amerika Serikat. Rumah keluarganya adalah sebuah mansion megah dengan halaman seluas lapangan bola di kawasan elite, lengkap dengan deretan mobil premium di dalam garasinya. Ayahnya adalah salah satu orang terkaya di provinsi itu.

 

Namun bagi Rissa, semua kekayaan itu adalah milik orang tuanya, bukan miliknya. Sejak kecil, ia dididik untuk menghargai setiap tetes keringat dan tidak pernah memamerkan apa yang bukan hasil usahanya sendiri. Menjadi guru adalah panggilan jiwanya, dan menyembunyikan identitas aslinya adalah caranya agar bisa membumi dan diterima apa adanya tanpa embel-embel nama besar sang ayah.

 

Di antara seluruh sudut sekolah, perhatian Rissa selalu tertuju pada satu titik: Sarman Munawarman.

 

Rissa sering kali mendapati dirinya diam-diam mengamati Maman. Dari balik jendela ruang guru yang menghadap ke tempat parkir sepeda, ia sering melihat Maman yang sedang mengelap peluh di dahinya setelah mengayuh sepeda tuanya di bawah guyuran hujan. Rissa melihat bagaimana kemeja Maman yang mulai tipis di bagian siku tetap disetrika dengan sangat rapi. Ia melihat ketulusan yang memancar dari mata pria itu saat berbicara dengan murid-muridnya yang kesulitan.

 

Namun, yang paling membuat hati Rissa bergetar adalah ketika ia melihat Maman beribadah. musala sekolah yang kecil dan sering kali sunyi di luar jam salat wajib menjadi saksi bisu. Beberapa kali Rissa yang hendak mengambil mukena melihat Maman sedang bersujud dalam kesendirian di waktu duha atau setelah jam sekolah usai. Pria itu berdoa begitu lama, begitu khusyuk, seolah-olah ia sedang menumpahkan seluruh isi kepalanya yang lelah langsung ke hadapan Sang Pencipta.

 

Dalam sujud yang panjang dan sunyi,
ada hening yang bicara lebih keras dari kata.
Rissa melihat ketulusan yang tak terbeli,
seorang lelaki yang meletakkan seluruh dunianya di atas sajadah tua.

"Dia tidak pernah mengeluh," bisik Rissa dalam hati, dadanya berdenyut oleh rasa kagum yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. "Gajinya sangat kecil, tapi dedikasinya tanpa batas. Dia kaya dalam cara yang tidak bisa dipahami oleh orang-orang yang hanya memuja materi."

Rissa tahu betul bahwa Maman menyukainya. Ia bisa merasakan tatapan mata Maman yang langsung salah tingkah dan buru-buru dialihkan setiap kali mereka tidak sengaja berpapasan di koridor sekolah. Ia tahu bagaimana suara Maman tiba-tiba menjadi agak gugup saat menyapanya di pagi hari dengan kalimat formal seperti, "Selamat pagi, Bu Rissa. Semoga hari Anda menyenangkan."

 

Rissa selalu membalasnya dengan senyuman termanis yang ia miliki, senyuman yang biasanya sukses membuat wajah Maman memerah hingga ke telinga sebelum pria itu buru-buru pamit dengan alasan ada kelas yang harus dipersiapkan.

 

Rissa tahu Maman minder karena kondisi ekonominya. Ia tahu Maman merasa seperti setitik debu yang tidak pantas bersanding dengan dirinya yang seorang ASN berpenghasilan tetap. Padahal, andai saja Maman tahu, Rissa sama sekali tidak peduli dengan semua status sosial dan materi itu. Rissa telah jatuh hati sepenuhnya pada kejujuran, ketulusan, kesalehan, dan kebaikan hati yang terpancar dari setiap gerak-gerik Maman.

 

Namun, Rissa memilih untuk menahan diri. Ia tidak ingin terburu-buru. Ia tahu ego seorang laki-laki yang bertanggung jawab sangatlah sensitif. Jika ia maju terlalu cepat, Maman mungkin akan semakin menarik diri karena merasa terintimidasi. Maka, Rissa memilih untuk menunggu momen yang paling tepat, sambil diam-diam menjadi malaikat pelindung bagi pria yang dicintainya itu.

(bersambung)

 

===============

Daftar Isi


 


Sumber:

google gemini google trends google translate microsoft copilot Microsoft bing chat perplexity perchance chat openai paragraphai plagiarism checker unsplash


Read more: https://basando.blogspot.com

Basando by Andriyansyah Marjuki aka Abank Juki is licensed under Creative Commons Attribution NonCommercial 4.0 International




Follow us:

@Basando on Twitter

Basando on Facebook






Silakan Tinggalkan Pesan

Silakan ikuti blog ini terlebih dahulu jika ingin berkomentar!

Lebih baru Lebih lama

Pengikut

Rekomendasi Artikel

Menampilkan postingan...