Kidung Rantai Karat dan Rahasia Kotak Makan
Senandung Rantai Karat dan Aspal Pagi
Pagi di pinggiran kota selalu dimulai dengan kepulan asap kelabu dari knalpot angkutan umum—angkot trayek no. 17 yang pintunya selalu dibiarkan terbuka, seolah menantang takdir. Bagi Sarman Munawarman, yang lebih akrab dipanggil Maman oleh murid-murid dan rekan sejawatnya, bunyi derit rem logam angkot adalah alarm kehidupan.
Maman berdiri di tepi aspal basah sisa hujan semalam. Tangannya merapatkan jaket parasut murah yang warna birunya sudah pudar diterpa matahari bertahun-tahun. Di dalam tas ranselnya yang jahitannya mulai lepas di beberapa sudut, tersimpan harta karun paling berharga: sebuah laptop bekas dengan baterai yang hanya bertahan lima belas menit tanpa charger, tumpukan buku catatan taktik mengajar, dan sebuah mimpi besar yang sering kali terasa terlalu berat untuk ditanggung oleh dompetnya yang tipis.
Gaji sebagai guru honorer di SMA Harapan Bangsa hanyalah angka yang mampir sebentar untuk mengucapkan selamat tinggal. Sebagai guru sejarah, gajinya yang kecil itu bagaikan sejarah singkat yang hanya mampir sejenah setelah masuk ke dompetnya. Nominalnya bahkan tidak cukup untuk menyewa kamar kos yang layak, apalagi untuk memikirkan masa depan yang muluk-muluk seperti pernikahan. Di usianya yang hampir menyentuh kepala tiga, Maman masih bergelut dengan kalkulasi paling rumit di dunia: bagaimana bertahan hidup dengan uang beberapa ratus ribu rupiah sebulan tanpa harus kehilangan kewarasan.
"Kiri, Bang!" teriak Maman ketika angkot mendekati gerbang sekolah.
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar uang dua ribuan dan beberapa keping logam ratusan rupiah yang sudah kusam. Jumlah pas. Supir angkot menerimanya dengan gumaman pelan tanpa menoleh. Maman turun dengan senyum kecil yang tetap tersungging di wajahnya. Langkahnya tegap, seolah-olah ia baru saja turun dari mobil mewah ber-AC, bukan dari angkot yang bising dan berbau bensin campur keringat penumpang lain.
Namun, ada hari-hari ketika dompet Maman benar-benar kosong melompong. Hari-hari di mana bahkan untuk membayar ongkos angkot pun ia harus memutar otak dua kali. Pada hari-hari seperti itu, peninggalan terakhir mendiang kakeknya menjadi penyelamat: sebuah sepeda onthel tua berwarna hitam legam yang rantainya sudah karatan dan mengeluarkan bunyi nyaring setiap kali dikayuh.
Krieeet... klong... krieeet... klong…
Bunyi itu seperti sebuah puisi usang tentang kemiskinan yang diputar berulang-ulang di atas aspal sepanjang tujuh kilometer menuju sekolah. Kayuhan kaki Maman lambat namun konsisten. Keringat akan membasahi punggung kemejanya sebelum ia sempat menyapa murid pertama di gerbang. Terkadang, beberapa pengendara motor atau mobil mewah melintas di sampingnya, menyisakan kepulan debu yang membuat Maman terbatuk. Di bawah terik matahari atau guyuran gerimis tipis, ia mengayuh dengan kepala tegak, menolak untuk terlihat menyedihkan.
Sebab di balik karat besi yang bergesekan,
ada tekad yang tak sudi digerus zaman.
Maman melipat letih dalam lipatan sajadah,
meyakini bahwa setiap kayuhan adalah langkah menuju berkah.
"Gila, struggle-nya riil banget, no fek-fek," bisik beberapa murid kelas sepuluh yang kebetulan melihat Pak Maman menuntun sepeda tuanya masuk melalui pintu samping sekolah. Namun bagi mereka, sosok kurus berwajah hangat itu bukanlah objek belas kasihan. Pak Maman adalah idola. Sosok green flag yang nyata di tengah dunia yang penuh dengan kepalsuan.
Maman belum menikah. Jangankan menikah, untuk sekadar mendekati perempuan yang ia sukai saja, ia memilih mundur sebelum berperang. Ada rasa minder yang teramat dalam, sebuah tembok raksasa bernama realitas ekonomi yang selalu membisikkan bahwa dirinya belum pantas. Di kepalanya, skenario romantis selalu berakhir tragis ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa cinta butuh makan, dan mas kawin butuh uang panai yang tak sedikit. Ia memilih menjadi pungguk yang tahu diri, mengagumi dari kejauhan, menyimpan nama sang gadis dalam folder paling rahasia di hatinya yang terkunci rapat.
(bersambung)

Posting Komentar
Silakan ikuti blog ini terlebih dahulu jika ingin berkomentar!