Dalam dunia perfilman Indonesia, banyak skenario film yang telah berhasil mencetak prestasi luar biasa, baik di tingkat nasional maupun internasional. Skenario-skenario ini tidak hanya memukau penonton dengan alur cerita yang kuat, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang mendalam, membahas isu-isu sosial, dan menggambarkan keberagaman budaya Indonesia. Dari film bergenre drama hingga horor, setiap skenario yang berhasil meraih penghargaan membuktikan bahwa kualitas penulisan skenario di Indonesia terus berkembang dan semakin mendunia.
Berikut adalah daftar skenario film Indonesia terbaik (sejak tahun 2000 hingga 2024), disertai penghargaan atau prestasi yang diperoleh:
"Ada Apa Dengan Cinta?" (2002)
Ditulis oleh Jujur Prananto. Film ini menjadi fenomena budaya pop dan memenangkan banyak penghargaan di Festival Film Indonesia (FFI) untuk kategori Best Editing dan Popular Film.
"Nagabonar Jadi 2" (2007)
Ditulis oleh Asrul Sani. Film ini memenangkan kategori Film Terbaik di FFI 2007.
"Laskar Pelangi" (2008)
Ditulis oleh Salman Aristo. Skenario adaptasi dari novel Andrea Hirata ini meraih penghargaan Film Terfavorit di Indonesian Movie Awards dan sukses besar secara komersial.
"Alangkah Lucunya (Negeri Ini)" (2010)
Ditulis oleh Musfar Yasin. Film ini memenangkan kategori Skenario Asli Terbaik di FFI 2010.
"Sang Penari" (2011)
Ditulis oleh Salman Aristo dan Ifa Isfansyah. Film ini menjadi Film Terbaik di FFI 2011 dan mendapatkan banyak pujian atas sinematografi dan ceritanya.
"Habibie & Ainun" (2012)
Ditulis oleh Ginatri S. Noer. Film ini sukses besar di bioskop dan mendapatkan apresiasi tinggi di Indonesia Movie Awards.
"Cahaya dari Timur: Beta Maluku" (2014)
Ditulis oleh Angga Dwimas Sasongko. Film ini memenangkan penghargaan Film Terbaik di FFI 2014.
"Tabula Rasa" (2014)
Ditulis oleh Tumpal Tampubolon. Skenario ini memenangkan kategori Skenario Asli Terbaik di FFI 2014.
"Siti" (2015)
Ditulis oleh Eddie Cahyono. Film ini meraih penghargaan Skenario Asli Terbaik di FFI 2015 dan mendapat pujian di festival internasional.
"Athirah" (2016)
Ditulis oleh Salman Aristo. Film ini memenangkan kategori Film Terbaik di FFI 2016.
"Pengabdi Setan" (2017)
Ditulis oleh Joko Anwar. Film ini mendapatkan penghargaan Film Horor Terbaik di Indonesian Box Office Movie Awards dan menjadi salah satu film horor Indonesia terpopuler.
"Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak" (2017)
Ditulis oleh Mouly Surya dan Rama Adi. Film ini menerima penghargaan di Festival Film Asia Pasifik dan FFI untuk kategori Sinematografi Terbaik.
"Dua Garis Biru" (2019)
Ditulis oleh Ginatri S. Noer. Film ini memenangkan kategori Skenario Asli Terbaik di FFI 2019 dan mendapatkan pujian atas tema sensitif yang diangkat dengan baik.
"Keluarga Cemara" (2019)
Ditulis oleh Ginatri S. Noer. Film ini memenangkan penghargaan di FFI untuk kategori Skenario Adaptasi Terbaik.
"Perempuan Tanah Jahanam" (2019)
Ditulis oleh Joko Anwar. Film ini mendapat penghargaan Film Terbaik di Indonesian Box Office Movie Awards dan dinominasikan di festival internasional.
"Imperfect" (2019)
Ditulis oleh Ernest Prakasa dan Meira Anastasia. Film ini memenangkan penghargaan Best Story di Indonesian Movie Actors Awards.
"Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini" (2020)
Ditulis oleh Jenny Jusuf dan Angga Dwimas Sasongko. Film ini memenangkan penghargaan di FFI untuk kategori Best Editing.
"Yuni" (2021)
Ditulis oleh Kamila Andini. Film ini memenangkan penghargaan Platform Prize di Toronto International Film Festival (TIFF) dan Film Terbaik di FFI 2021.
"Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" (2021)
Ditulis oleh Eka Kurniawan dan Edwin. Film ini memenangkan Golden Leopard di Locarno Film Festival 2021.
"KKN di Desa Penari" (2022)
Ditulis oleh Lele Laila dan Gerald Mamahit. Film ini menjadi fenomena box office dan film horor Indonesia terlaris sepanjang masa.
"Autobiography" (2022)
Ditulis oleh Makbul Mubarak. Film ini memenangkan penghargaan Best Film di Venice International Film Festival untuk kategori Horizons.
"Before, Now & Then (Nana)" (2022)
Ditulis oleh Kamila Andini. Film ini mendapat penghargaan Silver Bear for Best Supporting Performance di Berlinale 2022.
"Like & Share" (2022)
Ditulis oleh Gina S. Noer. Film ini mendapat apresiasi tinggi di FFI untuk tema yang relevan dengan isu sosial.
"24 Jam Bersama Gaspar" (2024)
Ditulis oleh Angga Dwimas Sasongko. Film ini dipuji atas pendekatan sinematiknya yang inovatif dan dinominasikan di FFI.
"Agak Laen" (2024)
Ditulis oleh Hanung Bramantyo. Film ini berhasil meraih penghargaan Film Komedi Terbaik di Indonesian Movie Awards.
Dengan hadirnya berbagai skenario berkualitas ini, perfilman Indonesia terus menunjukkan potensinya sebagai salah satu industri kreatif yang mampu bersaing di kancah internasional. Semoga daftar karya terbaik ini tidak hanya menginspirasi para sineas muda untuk terus berkarya, tetapi juga memberikan penghormatan kepada para penulis skenario yang telah memberikan kontribusi luar biasa bagi seni dan budaya. Tetaplah mendukung film-film Indonesia agar kita dapat terus menyaksikan karya-karya hebat di masa depan!
Basando by Andriyansyah Marjuki aka Abank Juki is licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International

Tidak ada komentar:
Harap beri komentar yang positif. Oke boss.....
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.