Translate

Berita Terkini Antara News
Memuat berita...
Postingan Terbaru Basando
Memuat postingan...

Rekomendasi Artikel

Memuat postingan acak...

Cerpen: Kidung Rantai Karat dan Rahasia Kotak Makan (Bagian 5)




Kidung Rantai Karat dan Rahasia Kotak Makan

(Bagian 5)

 

 

Cerpen Menetap dalam Kesunyian

Restu dari Bapak dan Janji Kayu Jati

Hujan deras mengguyur kota ketika Rissa duduk di ruang keluarga rumahnya yang megah. Aroma kayu jati yang khas dari furnitur premium buatan pabrik ayahnya menguar hangat, berpadu dengan aroma teh melati yang mengepul dari cangkir porselen di atas meja.

 

Ayahnya, Surya Wisesa, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan rambut yang mulai memutih namun memiliki tatapan mata yang hangat dan bijaksana, sedang membaca koran bisnis sore itu. Ia melirik putri tunggalnya yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk tehnya tanpa meminumnya sedikit pun. Wajah cantik Rissa tampak mendung, penuh dengan sesuatu yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya.

 

"Rissa," panggil sang Ayah, suaranya berat namun lembut. "Tehmu bisa dingin kalau terus-terusan diaduk seperti itu. Ada masalah di sekolah? Atau... pikiranmu sedang terbang ke tempat lain?"

 

Rissa tersentak, lalu meletakkan sendok kecilnya dengan canggung. "Eh, tidak ada apa-apa, Bah. Hanya... sedikit lelah saja setelah memeriksa tugas anak-anak."

Abah Surya melipat korannya, lalu memajukan posisi duduknya. Sebagai seorang pengusaha sukses yang memulai segalanya dari bawah, ia memiliki intuisi yang sangat tajam. Ia tahu persis kapan putrinya sedang menyembunyikan sesuatu.

 

"Kamu tidak bisa berbohong pada Abah, Nak," kata Abah Surya sambil tersenyum tipis. "Sudah beberapa bulan ini Abah perhatikan kamu selalu bangun jam empat subuh di hari Selasa dan Kamis untuk memasak porsi besar. Padahal biasanya kamu paling malas kalau disuruh menyentuh wajan sepagi itu. Dan Abah juga tahu dari supir yang sesekali merawat motormu, kamu sering memandang ke arah sepeda tua yang diparkir di dekat musala sekolah saat Abah menjemputmu tempo hari. Siapa laki-laki itu?"

 

Wajah Rissa seketika memerah sempurna. Ia tidak menyangka perhatian kecilnya selama ini telah terendus oleh ayahnya yang jeli. Ia menunduk, memainkan jemarinya yang mendadak terasa dingin.

"Namanya... Sarman, Bah. Panggilannya Maman," bisik Rissa, suaranya nyaris tak terdengar di antara deru suara hujan di luar.

 

"Dia guru honorer di sekolahmu?" tanya Abah Surya, nadanya datar, tanpa ada tanda-tanda kemarahan atau penghakiman.

 

Rissa mengangguk pelan. "Iya, Bah. Gajinya sangat kecil. Dia tinggal di kamar kos sederhana di pinggiran kota. Kadang kalau tidak punya uang untuk ongkos angkot, dia mengayuh sepeda tua usang yang rantainya karatan ke sekolah. Tapi... dia orang yang luar biasa, Bah."

 

Rissa mendongak, matanya yang berkaca-kaca kini memancarkan binar keyakinan yang kuat. "Dia guru yang sangat dicintai murid-muridnya karena selalu mengajar dengan penuh inovasi dan kejutan. Dia tidak pernah menyerah pada keadaan. Dan yang paling penting, dia adalah seorang muslim yang sangat taat. Rissa sering melihatnya salat duha di musala sekolah saat istirahat pagi dan sering pula ia melihat Maman bertadarus di musala saat semua orang sudah pulang. Dia jujur, tulus, dan memiliki hati yang sangat bersih. Rissa... Rissa menyukainya, Bah. Sangat menyukainya."

 

Abah Surya menatap putrinya lekat-lekat. Keheningan sempat merayap di antara mereka selama beberapa saat yang terasa menegangkan bagi Rissa. Ia takut ayahnya—yang seorang pengusaha kaya raya—akan menentang perasaannya dan menuntut agar ia mencari pria lain yang setara secara materi.

Namun, di luar dugaan, sebuah senyuman lebar justru terkembang di wajah Abah Surya. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi jati sambil mengangguk-angguk kecil.

 

"Abah sudah hidup cukup lama untuk tahu bahwa kekayaan sejati tidak pernah terletak pada angka-angka di rekening bank," kata Abah Surya, suaranya bergetar oleh emosi yang mendalam. "Dulu, waktu Abah pertama kali melamar ibumu, Abah hanyalah seorang buruh serabutan di bengkel kayu kecil. Abah tidak punya apa-apa selain kapak usang, sepasang tangan yang kasar, dan janji untuk bekerja keras demi membahagiakan ibumu. Dan ibumu memilih Abah karena dia melihat apa yang ada di dalam dada Abah, bukan apa yang ada di dalam dompet Abah."

 

Abah Surya bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Rissa, lalu mengusap lembut kepala putri kesayangannya itu.

 

"Jika laki-laki bernama Maman itu memang seperti yang kamu katakan—jujur, taat beribadah, dan berdedikasi tinggi—maka dia adalah menantu impian yang selama ini Abah cari," ujar Abah Surya hangat. "Laki-laki yang takut kepada Tuhannya tidak akan pernah berani menyakiti perempuan yang diamanahkan kepadanya. Abah merestuimu, Rissa."

 

Air mata Rissa akhirnya tumpah, namun kali ini adalah air mata kebahagiaan yang teramat sangat. Ia memeluk ayahnya erat-erat.

 

"Tapi, Bah... dia sangat minder dengan kondisinya," isak Rissa di pundak ayahnya. "Dia merasa tidak pantas mendekatiku karena dia pikir aku seorang ASN. Dia tidak tahu siapa keluarga kita yang sebenarnya. Dia belum berani menyatakan perasaannya karena masalah biaya pernikahan dan tempat tinggal."

 

Abah Surya menepuk-nepuk punggung Rissa dengan tawa kecil yang menenangkan. "Kalau begitu, mari kita buat rencana untuk membantunya tanpa membuat harga dirinya sebagai laki-laki terluka. Dengarkan Abah, Rissa."

 

Abah Surya melepaskan pelukannya, menatap mata Rissa dengan keseriusan seorang ayah yang ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya.

 

"Katakan padanya perasaanmu yang sebenarnya. Jangan tunggu dia yang memulai, karena laki-laki yang jujur dan tahu diri sering kali terlalu malu untuk melangkah jika tidak diberi kepastian. Ajak dia datang ke rumah ini saat momen yang tepat. Dan sampaikan ini padanya: Abah yang akan menanggung seluruh biaya pernikahan kalian. Tidak perlu ada pesta mewah yang melelahkan jika itu membuatnya tidak nyaman, yang penting sah dan berkah."

 

"Selain itu," lanjut Abah Surya dengan mata berbinar, "Abah sudah menyiapkan sebuah rumah keluarga kecil yang asri di dekat sekolah kalian, lengkap dengan seluruh perabotan kayu jati terbaik dari pabrik Abah. Itu hadiah pernikahan dari Abah untuk kalian berdua."

 

"Lalu bagaimana dengan pekerjaannya, Bah? Dia pasti ingin tetap mandiri," tanya Rissa, hatinya dipenuhi rasa syukur yang tak terhingga.

 

"Abah tahu," jawab Abah Surya bijaksana. "Abah tidak akan menyuruhnya berhenti menjadi guru, karena dunia ini butuh lebih banyak guru hebat seperti dia. Tapi Abah akan menawarkannya pekerjaan sampingan di perusahaan Abah. Kami sedang membutuhkan seorang konsultan pendidikan dan penasihat program pengembangan karakter untuk anak-anak karyawan di yayasan perusahaan. Jam kerjanya fleksibel, bisa dikerjakan setelah jam sekolah usai, dan gajinya akan lebih dari cukup untuk memberikan kehidupan yang sangat layak bagi kalian berdua. Bagaimana?"

 

Rissa tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa kembali memeluk ayahnya dengan hati yang membubung tinggi ke angit-langit rumah mereka. Rencana indah telah disusun, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menjadikannya kenyataan.

(bersambung)

 

===============

Daftar Isi



Sumber:

google gemini google trends google translate microsoft copilot Microsoft bing chat perplexity perchance chat openai paragraphai plagiarism checker unsplash


Read more: https://basando.blogspot.com

Basando by Andriyansyah Marjuki aka Abank Juki is licensed under Creative Commons Attribution NonCommercial 4.0 International




Follow us:

@Basando on Twitter

Basando on Facebook






Silakan Tinggalkan Pesan

Silakan ikuti blog ini terlebih dahulu jika ingin berkomentar!

Lebih baru Lebih lama

Pengikut

Rekomendasi Artikel

Menampilkan postingan...