Translate

Berita Terkini Antara News
Memuat berita...
Postingan Terbaru Basando
Memuat postingan...

Rekomendasi Artikel

Memuat postingan acak...

Cerpen: Kidung Rantai Karat dan Rahasia Kotak Makan (Bagian 4)




Kidung Rantai Karat dan Rahasia Kotak Makan

(Bagian 4)

 

 

Cerpen Menetap dalam Kesunyian

Kotak Makan Misterius dan Doa-Doa yang Menggantung

Bagi Maman, hari Selasa dan Kamis selalu menyimpan misteri yang menyenangkan sekaligus membingungkan.

 

Setiap kali ia kembali ke mejanya di ruang guru setelah mengajar kelas siang yang menguras tenaga, ia selalu menemukan sebuah kotak makan siang plastik berwarna pastel yang diletakkan rapi di atas tumpukan buku tugas murid. Kotak makan itu tidak pernah disertai nama pengirim, hanya ada secarik kertas kecil berperekat dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas:

 

"Semangat mengajar hari ini, Pak Maman! Jangan lupa dihabiskan ya, tubuhmu juga butuh energi untuk terus menginspirasi."

Menu di dalamnya selalu luar biasa. Terkadang nasi kuning lengkap dengan ayam suwir, perkedel kentang yang lembut, dan sambal goreng ati yang harum daun jeruk. Di hari lain, ada nasi uduk hangat dengan lauk empal daging yang bumbunya meresap sampai ke serat terdalam, ditemani potongan ketimun segar yang diiris cantik. Makanan itu selalu hangat, seolah-olah baru saja disiapkan dengan penuh cinta beberapa saat sebelum diletakkan di mejanya.

 

"Ini dari siapa ya?" gumam Maman pada suatu hari Selasa, matanya memandang berkeliling ruang guru yang tampak lengang karena sebagian besar guru sedang mengajar atau istirahat di kantin luar.

Maman pernah bertanya kepada Pak joko, penjaga sekolah yang biasa membersihkan area ruang guru. Namun Pak Joko hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum misterius. "Aduh, kurang tahu saya, Pak Maman. Pas saya masuk bersihin meja, kotak itu sudah ada di situ. Mungkin dari pengagum rahasia. Kan Pak Maman idola sekolah," candanya.

 

Maman hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya bersemu merah. Di dalam hatinya, sebuah harapan liar sempat melintas: Mungkinkah ini dari Bu Rissa? Namun ia segera menepis pikiran itu jauh-jauh. Jangan mimpi, Maman! Bu Rissa itu ASN cantik, masa mau repot-repot masak dan ngasih makanan buat guru honorer dekil kayak kamu. Paling ini dari salah satu wali murid yang kasihan melihat badanmu yang makin kurus.

 

Meskipun dipenuhi tanda tanya, Maman selalu memakan habis setiap butir nasi di dalam kotak tersebut tanpa sisa. Setiap suapan terasa seperti pelukan hangat di tengah dinginnya kenyataan hidup. Setelah selesai makan, ia akan mencuci bersih kotak plastik tersebut, mengeringkannya dengan tisu, dan meletakkannya kembali di sudut mejanya dengan secarik kertas balasan yang ia tulis sendiri:

 

"Terima kasih banyak atas kebaikan Anda. Makanan ini sangat lezat dan telah memberikan kekuatan baru bagi saya hari ini. Semoga Allah membalas kebaikan Anda dengan berkah yang melimpah."

 

Dan keesokan harinya, kotak makan kosong itu akan hilang secara misterius, hanya untuk kembali lagi dalam keadaan penuh lauk lezat di hari berikutnya.

 

Di balik kemudi motor matic sederhananya saat perjalanan pulang, Rissa selalu tersenyum kecil mengingat bagaimana Maman melahap habis masakan yang ia buat sendiri sejak pukul empat pagi di dapur rumahnya. Rissa sengaja bangun lebih awal setiap Selasa dan Kamis, memotong sayuran, mengulek bumbu tradisional, dan memasak dengan penuh ketelitian demi memastikan makanan itu memiliki cita rasa terbaik yang bisa ia sajikan untuk Maman.

 

Rissa sengaja menyelinap ke ruang guru di saat jam istirahat pertama, ketika Maman sedang sibuk mengajar di kelas ujung yang jauh dari kantor guru. Dengan gerakan cepat dan senyap, ia meletakkan kotak makan itu dan mengambil kotak kosong sisa hari sebelumnya. Membaca pesan balasan dari Maman yang ditulis dengan tulisan tangan yang rapi—khas seorang guru yang menghargai setiap detail—selalu berhasil membuat jantung Rissa berdegup kencang sepanjang hari.

 

Dalam kotak makan yang sederhana,
Rissa menitipkan sebentuk rasa yang tak sempat terucap.
Ada doa yang ikut larut dalam bumbu dan aroma,
berharap lelah di pundak sang guru perlahan menguap.

 

"Dia pantas mendapatkan ini semua," bisik Rissa pada malam hari di kamarnya, sambil menatap langit-langit yang dihiasi lampu tidur temaram. "Dia bekerja keras tanpa pernah memikirkan dirinya sendiri. Setidaknya, lewat makanan ini, aku bisa memastikan dia tidak kelaparan di tengah perjuangannya."

(bersambung)

 

===============

Daftar Isi

 


Sumber:

google gemini google trends google translate microsoft copilot Microsoft bing chat perplexity perchance chat openai paragraphai plagiarism checker unsplash


Read more: https://basando.blogspot.com

Basando by Andriyansyah Marjuki aka Abank Juki is licensed under Creative Commons Attribution NonCommercial 4.0 International




Follow us:

@Basando on Twitter

Basando on Facebook






Silakan Tinggalkan Pesan

Silakan ikuti blog ini terlebih dahulu jika ingin berkomentar!

Lebih baru Lebih lama

Pengikut

Rekomendasi Artikel

Menampilkan postingan...