Plot Twist Semesta: Tentang Kita yang Memilih Menetap dalam Sunyi
(Bagian 7)
Waktu adalah penyembuh sekaligus penguji paling setia. Satu tahun setelah Wiwin melangkah ke dunia kerja, Suripto Pamungkas akhirnya berhasil menuntaskan babak akhir perjuangan akademisnya di Universitas Pelita Abadi. Meski ia tidak berhasil menggenggam predikat Cumlaude seperti Wiwin karena kerikil tajam masa skorsing yang sempat menghentikan langkahnya, Ito lulus dengan kepala tegak dan hati yang jauh lebih dewasa.
Namun, semesta rupanya telah menyiapkan sebuah kejutan yang manis sebelum ia resmi mengenakan toga. Melalui pusat karier di kampusnya, Ito mendapatkan panggilan pekerjaan yang tidak terduga. Ia melewati serangkaian tes tertulis yang rumit serta wawancara kerja yang mendalam dengan penuh ketenangan. Bakat kepemimpinan terpendam dan ketulusan bicaranya membuahkan hasil: Ito dinyatakan lolos sebagai staf HRD. Berhubung saat itu ia belum resmi diwisuda, pihak perusahaan dengan berbesar hati bersedia menunda tanggal aktif bekerjanya hingga ia menyelesaikan ujian akhir.
Begitu tali toga dipindahkan, Ito langsung memulai babak barunya sebagai staf HRD profesional. Di gedung perkantoran yang megah itu, ia bekerja dengan dedikasi tinggi, tanpa pernah menyadari bahwa sosok yang duduk di ruang Manajer Keuangan perusahaan tersebut adalah ayah Donny.
Roda takdir telah berputar ke arah penebusan dosa. Beberapa waktu sebelumnya, orang tua Donny akhirnya mengetahui kebenaran yang sesungguhnya di balik peristiwa pemukulan di toko Adinda beberapa tahun silam. Mereka menyadari dengan rasa sesal yang teramat dalam bahwa putra mereka, Donny, adalah pihak yang bersalah karena telah berbuat tidak senonoh kepada Wiwin. Penyesalan karena telah menghancurkan satu tahun masa muda Ito dengan laporan polisi membuat ayah Donny bertekad bulat untuk menebus kesalahan darah dagingnya.
Ayah Donny sengaja merahasiakan identitasnya dari Ito. Ia tidak ingin Ito merasa risih atau merasa berutang budi jika mengetahui bahwa dirinya bisa bekerja di sana berkat rekomendasi rahasia sang manajer.
Tak hanya memantau karier Ito, ayah Donny yang jeli juga perlahan menyadari bahwa ada sekat sunyi yang membatasi hati staf HRD barunya itu. Ia tahu Ito menaruh rasa cinta yang teramat dalam kepada Wiwin, namun terlampau minder dan tidak pernah berani mengungkapkannya karena bayang-bayang masa lalu. Didorong oleh keinginan kuat untuk melihat pemuda yang pernah dizalimi anaknya itu bahagia, ayah Donny meminta bawahannya untuk mencari informasi lengkap mengenai keberadaan Wiwin. Dalam waktu singkat, ia berhasil mengantongi alamat kantor tempat Wiwin bekerja serta kos sempit yang menjadi tempat berteduh gadis itu.
Sejak hari itu, sebuah misteri indah mulai mewarnai hari-hari Wiwin.
Pada hari Senin yang sibuk, sebuah buket bunga mawar segar dengan aroma lembut mendarat di meja kerja Wiwin. Di antara kelopak bunganya, terselip sebuah kartu kecil bertuliskan: "Untuk senyummu yang selalu kutatap dari jauh. - Ito". Di minggu berikutnya, sebuah kotak kecil berisi cokelat kesukaannya atau syal rajut hangat dikirimkan ke kosnya, lengkap dengan nama pengirim yang sama.
Dada Wiwin berdesir hebat. Setiap kiriman itu membuat hatinya yang selama ini beku oleh penantian perlahan mencair. Ia merasa sangat dicintai dan diperhatikan oleh Ito. Namun, di sudut hatinya yang lain, ada rasa heran yang kerap kali menggelitik pikirannya. Setiap kali mereka bertemu sepulang kerja untuk makan malam bersama di warung tenda, Ito sama sekali tidak pernah membahas atau menanyakan tentang hadiah-hadiah indah tersebut. Pemuda itu tetap hangat, tetap menatapnya dengan binar teduh yang sama, namun mulutnya seolah terkunci rapat untuk mengakui kiriman-kiriman romantis itu.
Ito memang masih belum memiliki keberanian untuk meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka, tetapi di tengah kebisuan itu, mereka berdua terus menjaga benang merah hubungan mereka agar tidak terputus oleh waktu.
*

Posting Komentar
Silakan ikuti blog ini terlebih dahulu jika ingin berkomentar!