Plot Twist Semesta: Tentang Kita yang Memilih Menetap dalam Sunyi
(Bagian 1)
Malam selalu jatuh lebih lambat di sudut toko pakaian Adinda, tempat aroma kain baru berpadu dengan kepasrahan yang dingin. Bagi Wiwin Dwi Lestariningsih, detik-detik menjelang jam dinding menunjukkan angka sembilan adalah saat-saat paling sunyi sekaligus mencemaskan. Sebagai mahasiswi semester empat Universitas Pelita Abadi (UPA) yang bertahan hidup di belantara Jakarta, toko ini bukan sekadar tempat bekerja paruh waktu. Toko ini adalah napas buatannya, penopang hidupnya yang rapuh sejak ia dipaksa berdiri sebatang kara di sebuah kos sempit.
Wiwin mengusap peluh di keningnya, merapikan deretan gantungan baju dengan jemari yang mulai kaku. Di luar, rintik hujan mulai mengetuk kaca toko, menciptakan simfoni monoton yang mengiringi kesepian jiwanya. Kecantikannya yang alami—mata bulat dengan binar sendu serta senyum yang selalu disembunyikan—sering kali menjadi magnet yang tidak ia inginkan.
Pintu toko berdenting. Suara langkah kaki yang angkuh memecah keheningan.
Donny Damian Wijaya melangkah masuk dengan jaket mahal yang setengah basah. Pemuda itu, teman kuliah Wiwin yang hidupnya bergelimang kemudahan, menatap Wiwin dengan pandangan yang membuat bulu kuduk meremang. Donny adalah perwujudan dari privilese tanpa batas: ayahnya menjabat sebagai Manajer Keuangan di PT Surya Cemerlang, dan keluarganya merupakan pemilik sah dari toko pakaian Adinda tempat Wiwin mengais rezeki. Tidak hanya itu, Donny juga merupakan pemilik warnet Cyberspace di dekat kampus.
"Belum pulang, Win?" tanya Donny, bersandar pada pilar dekat meja kasir dengan senyum miring yang terkesan dipaksakan.
"Sebentar lagi, Don. Tinggal merapikan persediaan baju di rak depan," jawab Wiwin pelan, berusaha menjaga jarak aman. Ia selalu merasa tidak nyaman setiap kali Donny datang berkunjung di jam-jam tutup toko.
Donny melangkah mendekat, mengabaikan batas ruang personal yang mati-matian dijaga oleh Wiwin. Di kampus, semua orang tahu Donny sudah memiliki kekasih. Namun, ego dan status sosialnya membuat Donny merasa berhak mendapatkan apa saja yang diinginkannya, termasuk Wiwin. Ketertarikan Donny pada Wiwin murni didasari oleh nafsu egois, sebuah ambisi dangkal untuk menaklukkan gadis miskin yang menurutnya terlalu sombong karena selalu menolak godaannya.
"Hujan di luar makin deras. Gimana kalau selesai ini kamu ikut ke kamarku saja?" bisik Donny, matanya menatap lekat paras Wiwin yang mendadak pias. "Lebih hangat di sana. Toh, toko ini juga punya keluargaku. Aku bisa kasih kamu bonus lebih kalau kamu mau menurut."
Kata-kata itu bagai sembilu yang menyayat harga diri Wiwin. Genggaman tangannya pada gantungan baju mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Wiwin tahu posisinya sangat rentan. Ia butuh pekerjaan ini untuk bertahan hidup di Jakarta, tetapi ia tidak akan pernah menukar kehormatannya dengan sepeser rupiah pun.
"Maaf, Don. Saya harus langsung pulang ke kos setelah ini. Masih banyak tugas kuliah yang harus diselesaikan," tolak Wiwin setegas mungkin, meski suaranya sedikit bergetar.
Donny mendengus, merasa tertantang oleh penolakan tersebut. Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh untuk memojokkan Wiwin, dering telepon genggamnya memecah ketegangan. Dengan gerutu kesal, Donny berbalik dan melangkah keluar toko, meninggalkan Wiwin yang terduduk lemas di balik meja kasir, mendekap dadanya yang berombak karena ketakutan yang mencekam.
*

Posting Komentar
Silakan ikuti blog ini terlebih dahulu jika ingin berkomentar!