Plot Twist Semesta: Tentang Kita yang Memilih Menetap dalam Sunyi
(Bagian 3)
Di antara deretan meja kayu perpustakaan Universitas Pelita Abadi (UPA) yang tenang, aroma kertas tua dan embusan AC dingin menciptakan semacam pelindung dari dunia luar yang bising. Di sanalah, di bawah pendar lampu meja yang temaram, takdir menenun benang-benang halus yang mempertemukan Wiwin Dwi Lestariningsih dan Suripto Pamungkas.
Pertemuan mereka bermula dari tugas kelompok mata kuliah yang mengharuskan mereka bekerja dalam tim kecil. Bagi Ito, panggilan akrab Suripto, duduk berdekatan dengan Wiwin adalah sebuah berkah sekaligus ujian bagi keteguhan hatinya. Wiwin selalu datang dengan kesederhanaan yang anggun—rambutnya yang diikat rapi, pulpen sederhana, dan tatapan mata yang penuh keseriusan saat menatap lembar kerja.
"Win, bagian analisis data ini... kurasa lebih baik jika kita bagi dua agar tidak terlalu berat untukmu," ujar Ito suatu sore, suaranya pelan dan bergetar halus, seolah takut mengganggu keheningan perpustakaan.
Wiwin mendongak dari tumpukan buku referensinya. "Tidak apa-apa, To. Aku bisa menyelesaikan bagian ini. Tapi kalau kamu mau bantu memeriksa rumusnya nanti, aku akan sangat terbantu."
Saat itulah, ketika Ito mengulurkan tangan untuk mengambil catatan yang disodorkan Wiwin, ujung jemari mereka bersentuhan tanpa sengaja. Ada sengatan listrik halus yang menjalar, membuat keduanya tersentak pelan. Pandangan mereka bertemu. Dalam hitungan detik yang terasa berhenti, Wiwin menatap langsung ke dalam manik mata Ito yang teduh namun sarat akan perjuangan. Di mata pemuda desa itu, Wiwin tidak melihat keangkuhan seperti yang kerap ia temui pada pria lain; ia hanya melihat ketulusan yang murni.
Perasaan aneh—sebuah getaran hangat yang menyerupai cinta pada pandangan pertama—menyusup ke dalam dada mereka untuk pertama kalinya. Wiwin buru-buru mengalihkan pandangannya, merapikan rambut di balik telinga dengan pipi yang perlahan merona merah. Sebagai seorang gadis yang mandiri, ia terbiasa memendam segala emosi rapat-rapat, termasuk ketertarikan yang mulai tumbuh kepada Ito. Ia tahu prioritas hidupnya adalah mempertahankan beasiswa dan menyelesaikan kuliah demi masa depan yang lebih baik.
Ito pun demikian. Di dalam benaknya yang terdalam, ia sadar betul akan jurang pemisah di antara mereka. Setiap kali ia menatap Wiwin, bayangan wajah orang tuanya yang sedang membungkuk di bawah terik matahari di sawah Jawa Barat selalu hadir sebagai pengingat. Aku hanyalah seorang anak buruh tani yang menumpang hidup di asrama mahasiswa, batin Ito pahit. Aku tidak memiliki hak untuk mengharapkan hati seorang gadis seindah Wiwin.
Namun, semesta tampaknya enggan membiarkan mereka tetap asing. Beberapa hari kemudian, di tengah hiruk-pikuk kantin UPA yang ramai oleh aroma soto dan es teh manis, mereka kembali dipertemukan. Duduk berhadapan di meja kayu yang panjang, suasana mendadak menjadi hening di tengah kebisingan kantin.
Setiap kali Ito menyuap makanannya, ia mencuri pandang ke arah Wiwin yang sedang membaca diktat kuliahnya. Ketika Wiwin mendongak dan menangkap basah tatapan itu, Ito salah tingkah, buru-buru meminum es tehnya hingga tersedak ringan. Wiwin tidak bisa menahan senyum tipisnya melihat tingkah polos Ito. Saling pandang yang intens itu terjadi lagi, mengunci frekuensi hati mereka yang memilih untuk saling mencintai dalam diam.
Ada banyak kejadian kecil lain yang terus menyiram benih cinta di hati Ito. Mulai dari momen ketika Wiwin dengan tulus membersihkan noda tinta di sudut meja Ito, hingga saat Wiwin dengan sabar menunggunya menyelesaikan tugas di depan laboratorium komputer kampus. Bagi Ito, setiap detail kecil tentang Wiwin adalah melodi terindah yang ingin ia simpan selamanya dalam sunyi.
*

Posting Komentar
Silakan ikuti blog ini terlebih dahulu jika ingin berkomentar!