Plot Twist Semesta: Tentang Kita yang Memilih Menetap dalam Sunyi
(Bagian 5)
Kehidupan memiliki cara tersendiri untuk meruntuhkan kesombongan manusia, namun bagi Suripto Pamungkas, hidup meruntuhkan mimpinya tanpa ampun. Dari riuh ketikan komputer di Cyberspace yang hangat, kini Ito harus membiasakan diri dengan uap panas yang mengepul dari dapur sempit Warung Makan "Sedap Mantap". Pekerjaan sebagai tukang cuci piring adalah satu-satunya pelabuhan yang menerimanya tanpa memedulikan status skorsing akademis maupun catatan wajib lapor yang menggelayuti pundaknya.
Setiap hari, di balik tumpukan piring kotor yang seolah tak pernah habis, Ito menenggelamkan jemarinya dalam air sabun yang dingin dan pekat. Kulit tangannya mulai mengering dan mengelupas, terbakar oleh detergen murah. Di warung yang selalu bising oleh dentang sendok dan teriakan pelayan itu, Ito menemukan dunianya yang baru—dunia yang penuh dengan peluh dan aroma sisa makanan.
Selama menjalani hari-hari di sana, ada kalanya ia menghadapi kejadian yang tidak menyenangkan. Mulai dari bentakan pemilik warung saat piring tak sengaja retak, hingga tatapan merendahkan dari para pengunjung yang melihatnya setengah membungkuk membersihkan lantai. Namun, di antara pekatnya kelelahan, sesekali ada pula kejadian menyenangkan yang menyelamatkan jiwanya dari keputusasaan. Seperti kebaikan koki tua yang diam-diam menyisipkan potongan ayam lebih besar ke dalam porsi makannya, atau tawa hangat sesama pekerja paruh waktu saat mereka beristirahat di emperan warung menjelang tengah malam.
Di sudut lain Jakarta, dada Wiwin Dwi Lestariningsih selalu bergemuruh oleh rasa bersalah yang teramat dalam. Setiap kali ia menatap ruang kelas UPA yang kosong dari kehadiran Ito, dadanya sesak. Ia tahu betul, pemuda itu harus kehilangan pekerjaan, menanggung malu wajib lapor, dan merelakan satu tahun masa mudanya terhenti hanya demi melindunginya dari kehinaan.
Didorong oleh rasa bersalah sekaligus rindu yang tak terbendung, Wiwin mulai sering mendatangi Warung "Sedap Mantap". Ia selalu datang di jam-jam tanggung, saat warung tidak terlalu ramai, berpura-pura memesan sebungkus nasi rames hanya agar memiliki alasan logis untuk berada di sana. Namun, sepasang matanya yang sendu tidak pernah benar-benar menatap menu. Pandangannya selalu luruh ke arah dapur belakang, mencari sosok pemuda berbaju lusuh yang sedang bekerja keras.
Setiap kali melihat Ito yang bermandikan keringat, hati Wiwin bergetar hebat. Rasa bersalah itu perlahan bertransformasi, tumbuh menjadi seutas rasa cinta yang jauh lebih dalam dan kokoh dari sebelumnya. Ia jatuh cinta pada ketabahan Ito, pada ketulusan yang tersembunyi di balik pundak yang lelah itu.
Namun, Ito memilih untuk memasang dinding pertahanan yang sangat kokoh. Menyadari statusnya sebagai mahasiswa yang sedang diskors dan menyandang sanksi hukum, Ito selalu bersikap dingin seolah-olah ia tidak memiliki perasaan apa pun pada Wiwin. Setiap kali Wiwin mencoba menyapanya atau memberikan perhatian kecil, Ito hanya menjawab dengan anggukan kaku dan tatapan datar.
"Makanannya sudah siap, Win. Sebaiknya kamu segera pulang sebelum hujan," ujar Ito suatu sore, suaranya terdengar begitu datar dan asing, menyembunyikan badai rindu yang sebenarnya berkecamuk di dalam dadanya. Ia tidak ingin menyeret Wiwin lebih jauh ke dalam lumpur kehidupannya yang sedang kelam.
*

Posting Komentar
Silakan ikuti blog ini terlebih dahulu jika ingin berkomentar!