Latihan Soal TKA Literasi Bahasa Indonesia - Bagian 1 (Gratis!!!)
Uji Literasi Membaca - Bagian 01
Jawablah 10 pertanyaan di bawah ini berdasarkan teks bacaan yang tersedia, lalu klik tombol Submit di bagian akhir untuk melihat nilai Anda!
Bahan Bacaan 1 (Untuk Soal 1 - 5)
Gentle parenting atau pengasuhan yang lembut pada dasarnya adalah pola pengasuhan yang mengutamakan empati, mengakui perasaan, serta memotivasi anak. Ibu-ibu praktisi gentle parenting membuat batasan yang jelas dalam pengasuhan ini, yakni memberi pilihan pada anak, bukannya perintah. Mereka juga menghindari pemberian hadiah, hukuman, serta ancaman pada anak [1]. Gaya pengasuhan ini memerlukan disiplin diri yang tinggi. Ibu dituntut untuk lebih proaktif bukan reaktif, membuat keputusan dengan pemikiran matang, dan menjadi panutan dalam hal empati, respek, memahami, serta komunikasi [2].
Ada banyak hal yang disukai tentang pengasuhan yang lembut ini karena memberikan perspektif baru tentang pengasuhan anak (yang sangat menghormati emosi dan anak sebagai pribadi). Namun, atas dasar pengasuhan lembut ini, anak-anak yang memang belum memiliki kematangan emosi dan memiliki kepatuhan dan pengendalian diri menjadi tokoh utama. Oleh karena itu, hanya dikatakan adil bila orang dewasa, dalam hal ini ibu, yang harus menunjukkan kesabaran dan empati kepada anak [2, 3].
Gentle parenting menganggap bahwa seorang anak tidak boleh diberi tahu bahwa ia telah membuat ibu sedih atau tidak boleh ditegur sekalipun ia telah melakukan hal yang kurang baik. Perilaku buruk anak dalam pengasuhan gentle parenting dianggap sebagai akibat dari stres atau kecemasan anak yang disebabkan oleh orang lain [3].
Christine Organ dalam artikelnya “The Problem with ‘Gentle parenting?’ It’s Not Always Gentle on Mothers” berpendapat bahwa gentle parenting mengesampingkan dampak pada kehidupan ibu modern, terutama pada ibu bekerja yang memiliki waktu terbatas antara kehidupan rumah dan kantor. Ibu bekerja yang biasanya bisa menghemat waktu untuk mencapai tujuan tertentu dengan memberi hadiah pada anak, menurutnya menjadi tidak cocok dengan pengasuhan yang membutuhkan waktu cukup lama untuk menuruti kehendak anak ini [3, 4].
Pada akhirnya, ibu yang menerapkan pola asuh gentle parenting harus menyisihkan semua “saingan” anak, misalnya tugas-tugas rumah atau pekerjaan. Ibu perlu menjadi manusia yang memiliki banyak waktu bagi anak dan penuh ketenangan. Gentle parenting juga memaksakan figur ibu yang sempurna, seakan ibu tidak bisa mengalami kelelahan, kemarahan, dan harus selalu lembut pada anak [4, 5].
Bahan Bacaan 2 (Untuk Soal 6 - 10)
Tragedi pada November 1976 mengubah jalan hidup Terrance Stanley Fox. Saat itu, ia yang berusia 18 tahun mengalami kecelakaan saat sedang berkendara menuju rumahnya. Ia mengalami cedera di lutut kanan dan kesakitan. Namun, saat itu tidak ada penanganan medis. Sekali waktu di bulan Maret 1977, ia mengeluhkan rasa tidak nyaman pada lutut kanannya. Rasa itu muncul di tempat cedera empat bulan lalu dan jauh lebih menyiksa. Ia akhirnya memutuskan menemui dokter bedah tulang. Oleh dokter, ia divonis menderita sarkoma osteogenik, kanker yang membuat tulangnya menjadi lunak. Dokter mengamputasi kakinya empat hari kemudian [6, 7].
Tiga minggu setelah kakinya diamputasi, hidup Terry Fox tak lagi sama. Kondisi ini jelas membuatnya putus asa. Namun, ia teringat dengan majalah yang diberikan pelatih basketnya, Terri Flemming, beberapa jam sebelum operasi. Majalah itu menceritakan kisah penyandang disabilitas Dick Traum yang mengikuti lari maraton dengan satu kaki. Ia terinspirasi dengan hal itu dan berniat untuk mengikuti maraton pada tahun 1979 [7, 8]. Ini jelas mustahil karena dapat mengganggu kesehatannya yang baru pulih. Namun, niatnya tak dapat dicegah [8].
Pada Agustus 1979 di Winnipeg, Kanada, Terry mengikuti maraton pertamanya. Ia berhasil mencapai garis finis meskipun berada di posisi terakhir. Keberhasilan ini membuat Terry memiliki ide yang dipandang oleh banyak orang cukup gila: berlari dari kediamannya di Pantai Barat sampai ke Pantai Timur. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian banyak orang terhadap penyandang disabilitas. Melalui ini pula ia ingin mengumpulkan dana untuk mengungkap misteri kanker. Setiap orang hanya perlu mengumpulkan $1 [8, 9]. Jika Terry berhasil melintasi seluruh kota, total yang dikumpulkan bisa jutaan dolar AS [9].
Semua pihak yang mendengar ide Terry tidak ada yang menyetujui. Sampai akhirnya, ide ini menjadi perhatian banyak orang ketika ia menulis surat terbuka pada 15 Oktober 1979 [9]. Terry kemudian kebanjiran dukungan: finansial dan moral. Rencananya Terry memulai maraton di Newfoundland pada 12 April 1980 dan berakhir di Vancouver pada 10 September tahun yang sama [9, 10]. Ia menamai kegiatan ini Marathon of Hope [10].
Laman Terry Fox Foundation mencatat, ia berhasil berlari 42 km per hari dan melintasi 400 kota. Namun, gerak langkahnya terhenti pada 1 September 1980 [10]. Setelah 143 hari dan berlari sejauh 5.373 km, kesehatannya memburuk. Terry tumbang dan terpaksa menyudahi maratonnya di Ontario [10]. Selama beberapa minggu diobservasi, dokter menyatakan kanker telah menyebar. Peluang hidupnya hanya 10 persen. Meski terkulai lemas di rumah sakit, Terry meminta donasi ini diteruskan. Terkumpul dana hingga $1,7 juta [10, 11]. Akhirnya, mulai dari pejabat sampai artis berlomba-lomba mengumpulkan dana. Beragam penghargaan dari organisasi dan institusi negara, dalam dan luar negeri, diberikan kepada Terry atas Marathon of Hope-nya. Memasuki tahun 1981, donasi melonjak drastis dan mencapai $24,17 juta [11].
1. Menulis surat terbuka untuk melakukan maraton.
2. Mengalami kecelakan saat berkendara.
3. Mulai berlari untuk Marathon of Hope.
4. Kakinya harus diamputasi.
5. Mengikuti maraton di Winnipeg.
Berdasarkan urutan waktu, manakah urutan pernyataan yang sesuai dengan kisah hidup Terry Fox?

Posting Komentar
Silakan ikuti blog ini terlebih dahulu jika ingin berkomentar!