Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Gunakanlah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ini untuk mengecek kosakata baku!
Buku Pelajaran Elektronik Online
Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdiknas
Cari Informasi Lain di Blog Basando:

Kamis, 08 November 2012

Pemilihan Gubernur Jawa Barat (Pilgub Jabar) - 1

Setelah usai hiruk pikuk Pilgub DKI Jakarta dan menghasilkan pasangan Jokowi-Ahok sebagai peraih suara terbanyak sementara berdasar hasil hitung cepat lembaga-lembaga survai, kini Suasana panas politik akan berpindah ke Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Provinsi dan waktu yang paling dekat dengan pelaksanaan pilgub DKI Jakarta adalah Provinsi Jawa Barat yang akan menggelar pelaksanaan Pilgub pada Bulan Februari 2013.

Apa yang terjadi di Pilkada DKI Jakarta, pasti akan berdampak terhadap Pilgub Jawa Barat. Gubernur dan Wakil Gubernur yang saat ini menjabat adalah Ahmad Heryawan dari PKS (dulu anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta) dan Dede Yusuf yang dulu politisi PAN kemudian loncat ke Demokrat.

Ahmad Heryawan sudah dipastikan oleh PKS untuk dicalonkan kembali sebagai Cagub periode kedua kalinya. Begitu pula dengan sang Wagub Dede Yusuf, Ada kemungkinan kuat bahwa mereka akan bertarung dalam pilgub nanti. Karena sang Wagub juga maju mencalonkan diri sebagai cagub. Sementara beberapa nama kandidat lain yang muncul adalah Ketua DPD Golkar Provinsi Jawa Barat Irianto MS Syaifudin (Yance), Walikota Bandung Dada Rosada, Politisi PDIP Riekeu Diah Pitaloka, Ketua DPD PAN Jabar Edi Darnadi, ketua DPW PKB Jabar Dedi Wahidi (Dewa) dll.

Apa yang terjadi dalam Pilgub di Jakarta kemarin, dipastikan menimbulkan effect domino dalam peta politik dan pergerakan calon dalam pilgub Jabar. Paling tidak dari sisi hitung-hitungan koalisi parpol yang akan mengusung calon, dan siapa calon yang akan diusungnya. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam membaca peta politik dalam Pilgub Jawa Barat jika melihat kenyataan di DKI Jakarta.

Pertama, Fakta bahwa koalisi parpol yang supergemuk sekalipun di Jakarta (Demokrat, Golkar, PKS, PAN, PPP, PKB) dengan kekuatan 80 persen kursi di parlemen, ternyata tak mampu memenangkan memenangkan kandidat yang diusungnya yaitu Fauzi Bowo-Nahrowi Ramli

Kedua, Fakta bahwa koalisi parpol yang mayoritas dan kandidat yang diusungnya pun masih menjabat sebagai gubernur (Incumbent/Petahana) ternyata tak mampu “membeli” simpati rakyat. Hal ini menunjukan bahwa Parpol sudah tidak menjadi faktor yang menentukan dalam perhelatan Pilkada Langsung, kekuatan figur calon lebih dominan.

Ketiga, Kekuatan finansial (wani piro) baik dari kantung pribadi, maupun mendompleng pada kekuatan dana APBD melalui bansos, hibah, program-program dinas yang biasanya dimanfaatkan oleh Gubernur Petahana, ternyata tetap tak menjadi jaminan rakyat akan terpengaruh dan menentukan pilihan padanya. Karena ternyata rakyat hari ini sudah lebih cerdas menilai calon pemimpinnya. Jika dia bagus kinerjanya dan dicintai rakyatnya, dia akan dipilih kembali, jika dia dipersepsikan gagal dan tak disenangi oleh rakyatnya, dia tidak akan dipilih kembali oleh masyarakatnya.

Keempat, Pesona dan visi serta harapan yang ditawarkan seorang calon ternyata lebih menarik perhatian publik. Personal brand Jokowi-Ahok dalam Pilgub kemarin dengan berbagai manuvernya ternyata mendapatkan tempat yang layak disisi rakyat Jakarta. Bagaimana karakter pribadi Jokowi yang apa adanya, santun, ramah, sederhana, merakyat, mampu menyihir warga Jakarta, hanya dalam jangka waktu 3 bulan saja, beliau mampu menciptakan brand image yang positif yang mampu menjadi media darling, yaitu dengan fenomena baju kotak-kotak. Dia jalan kaki blusukan dari kampung ke kampung secara natural, bukan semata pencitraan. Sementara ramainya pemberitaan di media massa baik mainstream maupun sosial hanyalah penyempurna saja.

Lalu bagaimanakah peta Kandidat dan kekuatan politik di Jawa Barat sendiri?. Harus diakui, bahwa kemenangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf sebagai Gubernur Jabar pada Pilgub 2007 lalu sangatlah diluar perkiraan. Sama persis dengan apa yang terjadi di Jakarta hari ini. Bedanya dulu pasangan ini menjadi kuda hitam dari kerasnya pertarungan politik antara dua paket calon (Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim) yang diusung PDIP,PPP,PKB dll, dengan paket (Danny Setiawan-Iwan Sulanjana) yang didukung oleh partai Golkar dan Partai Demokrat. Sementara paket (Ahmad Heryawan-Dede Yusuf ) didukung oleh PKS dan PAN.

Pada saat itu faktor penentu kemenangan pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf terletak pada figur Dede Yusuf nya. Dia sangat populer di kalangan masyarakat Jawa Barat, terutama kalangan ibu-ibu atau perempuan pada umumnya. Karena Dede Yusuf sering nongol di televisi dengan iklan Bodrex nya. Pada saat itu pesona Dede Yusuf benar-benar menyihir masyarakat Jawa Barat. Banyak ibu-ibu yang sambil ketawa ketiwi mengatakan “akh abi mah milih bodrex we nu ganteng” Ah saya mah milih bodrex (Dede Yusuf) yang ganteng.

Tentu bukan semata-mata itu pula masyarakat Jawa Barat meneyenangi Sosok Dede Yusuf. Selama ini Dede Yusuf juga dikenal sebagai politisi yang menjadi anggota DPR RI dari dapil Ciamis, sehingga dalam beberapa kesempatan beliau juga mampu mengekspresikan dirinya dalam komunitas tatar parahiyangan sebagai refresentasi wakil ki Sunda dalam konteks politik nasional kala itu.

Lalu bagaimana posisi Ahmad Heryawan saat ini?. Kang Aher sepertinya menyadari tingkat popularitasnya tidaklah terlalu tinggi, bahkan berdasarkan hasil survei yang dilakukan Puslit Unpad popularitas Ahmad Heryawan hanya di kisaran angka 13 % sementara Dede Yusuf di kisaran angka diatas 40 %. Oleh karenanya, Ahmad Heryawan saat ini begitu gencarnya bersosialisasi melalui berbagai media. Baik di media massa maupun di media out door seperti baligo, spanduk, banner dll, di kota hingga pelosok desa di seluruh Jawa Barat. Sampai-sampai Kang Aher saat ini dijuluki sebagai Gubernur dengan Sejuta Spanduk.

Apakah kepemimpinannya selama hampir 5 tahun ini Ahmad heryawan dianggap berhasil memimpin Jawa Barat? Tentu ini harus diuji publik. Jika kinerjanya baik, dan itu sampai dan diketahui publik tentu publik akan dengan sendirinya memilihnya kembali, meskipun hal itu lagi-lagi berhubungan pula dengan citra dan persepsi yang melekat dalam sosok personal Ahmad heryawan dan PKS sebagai partai yang nanti akan mengusungnya.

Pergulatan politik partai dan adu pesona serta persepsi sebagaimana terjadi dalam Pilgub DKI Jakarta akan sangat mempengaruhi persepsi publik terhadap calon-calon yang akan maju dalam Pilgub Jabar nanti. Perilaku parpol dalam Pilgub DKI juga akan berpengaruh terhadap bagaimana persepsi publik menilai parpol-parpol di Jawa Barat. Meskipun sekali lagi, faktor parpol menjadi tidak menentukan lagi dalam kemenangan pilkada langsung seperti pilgub ini. Kita tunggu saja perkembangannya….



0 Komentar:

Poskan Komentar

Informasi Terdahulu Selengkapnya

Informasi Terdahulu

Informasi Dunia

 









google facebook twitter android apple microsoft download





Basando Plus Aneka Info

Terima Kasih atas kunjungan Anda.


Cek Harga Blog Anda di sini!
Copyright 2009 - 2013 | Basando
Simple Bluewater Special Edition Template designed by WHITE and REDesign by Abank Juki


IP

DMCA.com
google facebook twitter android apple microsoft download google facebook twitter android apple microsoft download google facebook twitter android apple microsoft download