BSE MAHONI BSE MAHONI
Informasi Lengkap Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2017 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Gunakanlah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ini untuk mengecek kosakata baku!
Buku Pelajaran Elektronik Online
Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdiknas

Kamis, 04 Juli 2013

Bagaimana Cara Menentukan Nilai Akhir Peserta Didik dalam Sebuah Mata Pelajaran/Kuliah???

KUKABARKAN lagi padamu sobat, bahwa telah bertahun-tahun, persepsi mahasiswaku akan caraku menentukan kelulusan nilai matakuliah yang kadang kontraversi. Kubukalah rahasia ini -yang sebetulnya mahasiswaku telah tahu rahasia ini- bahwa saya takkan pernah mutlak memberi nilai A, A-, B+, B, B-, C+, C, D,E. Cara Kompasianer Makassar ini dalam memberi nilai, tak berpatokan semata kepada angka-angka capaian peserta didikku, nilai UTS, UAS, Praktikum, Pembuatan Makalah atau Praktik Lapangan tidak serta merta menjadi ukuran mutlak dalam memberi nilai kepada mereka, yang juga ‘anak-anakku’ itu.

* * *

Dan saya teringat ucapan seorang profesor yang juga dosen saya (dulu): “Penentuan nilai adalah hak prerogatifmu”. Lafaz sang profesor ini masih segar di memoriku. “Soeharto-pun tak dapat ganggu gugat nilai matakuliahmu kepada mahasiswamu”, lanjut profesor itu. Ia ucapkan itu saat Soeharto masih berkuasa dan beliau sempat menghantarkan Hikmah Nuzulul Qur’an di Istiqlal, di hadapan Pak Harto dan jama’ah masjid warisan Soekarno itu.

* * *

Seorang mahasiswa yang telah mengambil matakuliah Psikologi Kesehatan I -saya lupa tahun berapa-, anak ini sangat mumpuni dan elegan dalam berdiskusi di kelas, sering wawasannya tentang penyakit-penyakit kejiwaan moderen sampai klasik. ia lebih paham, lebih tahu, lebih luas wawasannya dibanding saya yang nota bene pengampuh matakuliah tersebut. Pula-lah, ia sudah sangat cakap menkonversi psikologi kejiwaan manusia ke psikologi abnormal setingkat psikologi kematian dan mengkaji karakter setan yang dia istilahkan sebagai Psikologi Iblis. Cara berpikir ‘menembus batas’ ini membuatku harus keluar ruangan karena tak tahan menahan tawa.

Teramat kusayangkan, sebab saya menjatuhkan nilai B padanya. Prediksiku, ia akan mendatangiku dan melakukan protes secara ilmiah, complaint atas nama sabda aturan akademik, patokan dosen dalam menilai yang telah tertera dalam PAN (Penilaian Acuan Normal). Saya paham sekali bahwa anak ini menguasai cara penilaian dosennya dengan gaya PAN, bahwa simulasi nilai MEAN yang dioptimalkan di sini. Bahkan ia memasteri apa itu PAP (Penilaian Acuan Patokan). Sungguh ia mahasiswa membanggakan dalam kegigihan, bersikeras mengetahui segala hal, yang dianggap penting baginya. Ini menjadi pembeda dengan mahasiswa lain, tak tahu menahu bagaimana mesin penilaian matakuliah itu bergerak dan beroperasi.

Dugaanku tepat, mahasiswa ini menyambangiku di parkiran mobil, ia pun tegas berkata: “Pak, saya yakin nilaiku A”. Saya tersenyum manis padanya. Saat itu saya jedakan perasaan menunggunya atas jawabanku, sembari saya memerbaiki posisi spion kendaraanku. Sayapun menyeka-nyeka dasbor kendaraan yang kelihatannya diinapi debu. Anak itu masih setia berdiri menanti penjelasannku.

“Iya nilaimu A, UTS dan UASmu sangat bagus. Tugas-tugasmu masuk semua dan orisinil. Andai saja kamu bisa mengimbangi nilai-nilai itu dengan nilai yang lain, maka saya konsisten memberimu nilai A”, kataku sedikit panjang lebar 

“Nilai lain apa yang Bapak maksudkan?”, sergahnya.

“Yang saya maksud, Andai kamu menghormati teman-temanmu saat diskusi, memberi kesempatan pada mereka. Tapi kamu kelewat egois dalam berdiskusi, seolah teman-temanmu itu bodoh”, ucapanku ini sukses menundukkan kepalanya.

Mahasiswa tersebut dengan berat hati menerima nilai B yang kuberikan padanya, ini hanya persoalan sepele, sepele buat mahasiswa tapi sangat berarti buatku sebagai pendidik. Teramat banyak mahasiswa salah kaprah bahwa intelligent quotient adalah puncak pencarian dalam perguruan tinggi, mereka lupa bahwa kecerdasan dalam etika, kecerdasan dalam berinteraksi, kecakapan dalam relasi-relasi emosional, hubungan-hubungan humanistik. Segala itu pencapaian di zona rohaniah.

* * *

Membubuhkan potret etika dalam penilaian akhir sebuah matakuliah yang kupatrikan, hingga saya terkadang dituding diktator. Tiada kompromi jika menyangkut perkara moralitas. Sebab moralitas ini menjadi awal dari segalanya atas nama pendidikan diri, pendidikan keluarga dan pendidikan berbangsa. Sebab lain: buatku mengajar itu perlu, tapi mendidik itu jauh lebih penting^^^
Salam Edukasi










Cari informasi lainnya di bawah ini

0 Komentar:

Posting Komentar

Harap beri komentar yang positif. Oke boss.....

Informasi Lain

Informasi Lain

Informasi yang Anda Cari

Cari Informasi Lain di Blog Basando:
 

google facebook twitter android apple microsoft download

google facebook twitter android apple microsoft download


Basando Plus Aneka Info

Terima Kasih atas kunjungan Anda.


DMCA.com


Cek Peringkat Alexa di sini atau di sini!
Cek Harga Blog di sini atau di sini!
Check your websites worth here or here!

Copyright 2009 - 2017 | BASANDO
Simple Bluewater Special Edition Template
created and designed by WHITE and REDesign of Abank Juki

google facebook twitter android apple microsoft download google facebook twitter android apple microsoft download google facebook twitter android apple microsoft download