Translate

Berita Terkini Antara News
Memuat berita...
Postingan Terbaru Basando
Memuat postingan...

🌱 Kotak Pelepasan Beban

Sebelum membaca tulisan di bawah ini, silakan Anda ungkapkan perasaan / keluhan Anda hari ini. Terkadang curhat dapat membantu melepaskan sedikit beban yang kita hadapi. Semoga beban Anda hari ini dapat berkurang.

Rekomendasi Artikel

Memuat postingan acak...

Contoh Naskah Drama Komedi: Huru Hara Ekskul Singkong-Pisang




HURU-HARA EKSKUL SINGKONG-PISANG

Karya: Tim Kreatif Kelas X


Huru Hara Ekskul Singkong Pisang



PROLOG

(Panggung menggambarkan sebuah ruang kelas kosong di SMA Tunas Bangsa. Jam dinding menunjukkan pukul tiga sore. Di sudut ruangan, terdapat sebuah meja lipat dengan beberapa piring plastik berisi pisang goreng yang sudah dingin. NARATOR berdiri di depan panggung dengan pakaian rapi membawa buku tebal.)


NARATOR "Drama berasal dari bahasa Yunani, yaitu draomai yang berarti berbuat, berlaku, atau bertindak. Menurut KBBI, drama adalah cerita atau kisah yang melibatkan konflik atau emosi, disusun khusus untuk pertunjukan teater. Sore ini, di SMA Tunas Bangsa, kita tidak sedang menyaksikan tragedi klasik Shakespeare, melainkan sebuah komedi penuh sindiran halus atau satire. Ini adalah kisah tentang perjuangan mempertahankan ekskul kuliner tradisional yang terancam punah karena dianggap kurang bergengsi. Mari kita saksikan babak pertama: Tahap Eksposisi!"

(NARATOR membungkuk hormat lalu berjalan mundur ke balik tirai.)




BABAK SATU


(Latar: Ruang kelas yang sunyi. PAK BAMBANG (45), guru Bahasa Indonesia sekaligus pembina ekskul yang tampak lelah, duduk di meja guru sambil memeriksa daftar hadir. BONI (17), ketua ekskul, mondar-mandir dengan wajah gelisah. SITI (17) duduk sambil memegangi kepalanya secara dramatis, sementara DODI (17) asyik mengunyah pisang goreng dingin di sudut kelas.)


PAK BAMBANG

(mengetuk meja dengan penggaris kayu) "Anak-anak, harap tenang! Sebagai guru Bahasa Indonesia yang memahami unsur intrinsik drama, bapak harus menyampaikan bahwa ekskul kita hari ini resmi memasuki tahap konflik! Ibu Ratna, Kepala Sekolah kita yang perfeksionis, baru saja memberikan ultimatum keras."


SITI

(berdiri tiba-tiba dengan ekspresi sangat sentimental khas melodrama) "Oh, tidak! Cobaan apa lagi ini, Pak? Apakah dunia luar biasa kejamnya bagi kami para pencinta kuliner rakyat? Apakah kami harus terasingkan?"


PAK BAMBANG

(menghela napas panjang) "Siti, tolong kurangi kadar melodrama di dalam dirimu. Ibu Ratna mengancam akan membubarkan ekskul kita jika kita tidak bisa menampilkan kreasi masakan yang memukau dalam Pameran Ekstrakurikuler besok! Beliau menganggap ekskul kita tidak mendidik dan minim prestasi."


DODI

(berbicara dengan mulut penuh pisang goreng) "Tapi Pak, pisang goreng ini kan enak. Kenapa harus dibubarkan? Kurang bergengsi apa coba?"


BONI

(menghampiri DODI dan menepuk bahunya kesal) "Dodi! Justru itu masalahnya! Ibu Ratna melihat ekskul tetangga seperti Ekskul Robotik membuat robot canggih, sedangkan kita? Setiap minggu kerja kelompok kita hanya menggoreng singkong dan merebus pisang!"


SITI

(menunduk lesu sambil merenung) "Tapi... apakah masakan kita memang memalukan? Sebab, singkong dan pisang hanya bahan murah..."


BONI

(bersemangat) "Tidak, Siti! Ah, makanan mahal belum tentu enak rasanya, dan kita harus mengingat kemampuan kita! Dengan bahan sederhana, kita pun dapat membuat makanan yang enak! Kita harus merumuskan rencana besar!"

(Lampu pementasan padam perlahan.)




BABAK DUA


(Latar: Ruangan kelas yang sama, sore hari. Di papan tulis tertulis besar-besar: 'RESEP PENYELAMATAN EKSKUL'. BONI berdiri di depan papan tulis sambil memegang spidol. DODI memegang buku catatan kecil, sementara SITI memegang blender kosong.)


BONI

"Oke, teman-teman. Kita masuk ke tahap komplikasi, di mana alur cerita ekskul kita mulai berubah arah. Kita tidak bisa hanya membuat pisang goreng biasa. Kita harus melakukan aksi luar biasa untuk membuat Ibu Ratna terkesima!"


DODI

(tersenyum malas) "Bagaimana kalau kita menyontek resep kafe kekinian di internet saja, Bon? Tinggal kita copy paste, gampang, tak perlu repot berpikir!"


SITI

(memelototi DODI) "Dodi! Mencontek atau mengambil ide orang lain tanpa usaha adalah hal buruk, sama dengan dosa! Ingat kata Pak Bambang, kita harus jujur dalam berkarya!"


PAK BAMBANG

(masuk membawa beberapa buku referensi) "Betul sekali, Siti. Nilai moral sebuah cerita dibentuk dari kejujuran karakter protagonisnya. Bapak punya usul: bagaimana kalau kita menggabungkan singkong dan pisang menjadi menu bernama 'Singkong Karamel Keju Pelangi'? Sederhana, tapi penyajiannya estetik!"


BONI

"Ide jenius, Pak! Kita akan membagi tugas. Aku yang akan menyiapkan bahan singkong, Siti yang mengurus karamel pelangi, dan Dodi... Dodi, kamu bagian mencatat takaran bumbu dengan benar!"


DODI

(menguap) "Siap, Bos! Tenang saja, takaran bumbu adalah keahlianku."

(DODI diam-diam menulis di kertas kecil sambil tersenyum licik, bermaksud membuat takaran bumbu asal-asalan agar cepat selesai.)

(Lampu pementasan padam perlahan.)




BABAK TIGA


(Latar: Area pementasan diubah menyerupai dapur mini di sekolah. Terdapat kompor portable, wajan besar, tepung, dan buah pisang yang berserakan. SITI sedang sibuk mengaduk sesuatu di mangkuk. BONI memegang spatula seperti pedang pahlawan. DODI duduk di kursi lipat sambil memegang ponselnya.)


BONI

(berteriak penuh semangat) "Siti! Bagaimana perkembangan karamelnya? Kita sudah memasuki tahap krisis! Pameran akan dimulai tiga puluh menit lagi!"


SITI

(gugup, mengaduk dengan sangat cepat) "Aduh, Boni! Aku panik! Karamelnya warnanya berubah menjadi hitam pekat! Ini bukan pelangi, ini karamel maut!"


BONI

"Dodi! Mana catatan takaran gula yang kuberikan tadi? Kenapa karamelnya bisa gosong?"


DODI

(panik, mencari-cari kertas di sakunya) "Eh... itu... sepertinya aku salah menulis takaran gulanya, Bon. Harusnya dua sendok makan, tapi aku tulis dua kilogram!"


BONI

(terkejut setengah mati) "Dua kilogram?! Kamu mau membuat karamel atau mau mengawetkan kelas ini?!"

(Tiba-tiba dari kompor portable muncul asap tebal (efek suara kepanikan). DODI mencoba mematikan kompor tapi malah menjatuhkan sekotak tepung terigu ke udara. Tepung menyembur ke wajah BONI dan SITI hingga memutih.)


SITI

(berteriak histeris) "Tolonggg! Ekskul kita tidak hanya akan dibubarkan, tapi kita juga akan meledak!"

(PAK BAMBANG berlari masuk dengan wajah panik membawa kain basah untuk mematikan kompor.)


PAK BAMBANG

"Semuanya mundur! Biar bapak yang urus kompor ini!"

(Lampu pementasan padam mendadak dalam kegelapan.)




BABAK EMPAT


(Latar: Meja pameran ekskul. Di atas meja terdapat piring berisi hasil masakan yang penampilannya sangat abstrak—setengah gosong dan tertutup bubuk gula putih karena kekacauan sebelumnya. PAK BAMBANG, BONI, SITI, dan DODI berdiri berjejer dengan pakaian penuh noda tepung. IBU RATNA (Kepala Sekolah) berdiri di hadapan mereka dengan wajah dingin sambil melipat tangan.)


IBU RATNA

(melihat hidangan dengan pandangan skeptis) "Jadi... ini yang kalian sebut kreasi penyelamat ekskul? Penampilannya lebih mirip puing-puing bangunan daripada makanan tradisional."


SITI

(menundukkan kepala sambil menangis lirih) "Maafkan kami, Bu. Kami sudah berusaha keras, tapi kecerobohan kami merusak segalanya."


BONI

(maju selangkah dengan berani) "Ibu Ratna, kami mengakui kesalahan kami. Namun, kami mohon cobalah masakan ini terlebih dahulu. Walau penampilannya hancur, rasa dari perjuangan kami ada di dalamnya!"


IBU RATNA

(menghela napas, mengambil garpu perlahan) "Baiklah. Saya hargai keberanian kalian."

(IBU RATNA menusuk sepotong singkong karamel gosong tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut. Seluruh anggota ekskul menahan napas dalam keheningan yang panjang. Wajah IBU RATNA yang tadinya cemberut perlahan berubah tegang, lalu matanya membelalak kaget.)


IBU RATNA

"Ini... rasa ini..."


DODI

(takut-takut) "Apakah rasanya seperti racun, Bu?"


IBU RATNA

(tersenyum lebar dan puas) "Luar biasa! Tekstur luarnya yang sedikit gosong justru memberikan rasa karamel yang sangat khas dan renyah! Dan keju di dalamnya meleleh dengan sempurna! Ini adalah masakan tradisional dengan cita rasa modern yang berkarakter!"

(SITI dan BONI spontan saling berpelukan gembira.)

(Lampu pementasan padam.)




BABAK LIMA


(Latar: Ruang kelas ekskul yang kini bersih dan rapi. Ekskul mereka dipenuhi dengan piagam penghargaan kecil di atas meja. PAK BAMBANG, BONI, SITI, dan DODI berkumpul dengan tawa gembira.)


BONI

"Kita berhasil! Ekskul kita tidak jadi dibubarkan, dan Ibu Ratna bahkan memberikan kita dana tambahan untuk membeli peralatan memasak yang baru!"


DODI

"Aku berjanji, mulai sekarang aku tidak akan lagi malas-malasan atau menyontek resep asal-asalan. Aku akan belajar menakar gula dengan jujur!"


SITI

"Dan aku juga berjanji tidak akan terlalu dramatis lagi di dapur. Ternyata kesabaran dan kebersamaan kita mengalahkan segala keburukan!"


PAK BAMBANG

(tersenyum bangga) "Luar biasa anak-anak. Kita telah menyelesaikan keseluruhan alur cerita drama ekskul kita dengan resolusi yang sangat memuaskan. Tapi ingat, minggu depan kita harus membuat inovasi menu baru lagi."


BONI

(bersemangat) "Tenang, Pak! Aku punya ide luar biasa: bagaimana kalau minggu depan kita membuat ekskul baru bernama 'Ekskul Peneliti Semut Pecinta Pisang Rebus'?"


DODI & SITI

(bersamaan) "TIDAAAK KOK GITU LAGI!"

(Mereka semua tertawa terbahak-bahak.)




EPILOG


(NARATOR kembali masuk ke tengah panggung sambil tersenyum.)

NARATOR "Dan demikianlah pertunjukan kita hari ini selesai. Amanat yang bisa kita ambil dari kisah ekskul singkong-pisang ini adalah bahwa kesederhanaan bahan lokal, jika dikelola dengan kreativitas, kejujuran, dan persahabatan yang tulus, akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa berharga. Jangan pernah meremehkan hal-hal kecil di sekitar kita. Gelap!"

(TAMAT)




Penjelasan Singkat Unsur Drama dalam Skenario

Struktur Lima Babak
Naskah ini ditulis dengan membagi kronologis peristiwa ke dalam lima babak secara runut dari Eksposisi (Babak I), Komplikasi (Babak II), Krisis (Babak III), Resolusi (Babak IV), hingga Keputusan/Tamat (Babak V).

Karakter dan Penokohan
Tokoh Pak Bambang bertindak sebagai penengah (tritagonis) yang mendidik, Boni dan Siti sebagai karakter yang gigih (protagonis), sedangkan Dodi berperan memicu konflik internal karena kecerobohannya.

Format Penulisan
Naskah ini menggunakan kaidah format playwriting standar, seperti penulisan nama tokoh kapital di bagian tengah, serta petunjuk laku (stage direction) di dalam tanda kurung dengan huruf miring untuk mengarahkan gerakan fisik dan ekspresi emosi para aktor di atas panggung.


 


Sumber:

google gemini google trends google translate microsoft copilot Microsoft bing chat perplexity perchance chat openai paragraphai plagiarism checker unsplash


Read more: https://basando.blogspot.com

Basando by Andriyansyah Marjuki aka Abank Juki is licensed under Creative Commons Attribution NonCommercial 4.0 International




Follow us:

@Basando on Twitter

Basando on Facebook






Silakan Tinggalkan Pesan

Silakan ikuti blog ini terlebih dahulu jika ingin berkomentar!

أحدث أقدم

المتابعون

Basandochat

Rekomendasi Artikel

Menampilkan postingan...