Informasi Unggulan

Search Engine (Mesin Pencari) Paling Populer di Dunia

tagar: google, bing, search, engine, mesin, pencari, populer, tools, internet, viral =================================== Berikut in...

Kegiatan Belajar Online Di Rumah - Materi Teks Puisi - Kelas X

Teks Puisi



Kompetensi Dasar

KD 3.16
Mengidentifikasi suasana, tema, dan makna beberapa puisi yang terkandung dalam antologi puisi yang diperdengarkan atau dibaca.
KD 3.17
Menganalisis unsur pembangun puisi.
KD 4.16
Mendemonstrasikan (membacakan atau memusikalisasikan) satu puisi dari antologi puisi atau kumpulan puisi dengan memerhatikan vokal, ekspresi, dan intonasi (tekanan dinamik dan tekanan tempo)
KD 4.17
Menulis puisi dengan memerhatikan unsur pembangunnya.


Materi Teks Puisi

(Silakan dibaca dan hal pentingnya disalin ke Buku Catatan)



Contoh Puisi  

(Silakan Dilihat dan Dibaca)


Latihan Soal 

(Untuk Belajar, Tidak Dinilai!!!)



Penilaian Harian (Nilai KD 3.16 dan 3.17) 

(Nilai Pengetahuan)


  • Untuk ikut Penilaian Harian KD 3.16 klik:


  • Untuk ikut Penilaian Harian KD 3.17 klik:



Tugas (Nilai KD 4.16 dan 4.17) 

(Nilai Keterampilan)

  1. Tugas KD 4.16
Bacalah sebuah puisi dari contoh puisi yang telah diberikan di atas! Ketika Anda membaca puisi tersebut, rekamlah suara Anda dengan HP Anda. Lalu kirimkan rekaman suara ke:
https://forms.gle/9DnfnMgzvZUshrjc8

Hal yang dinilai:

  • Artikulasi, ketepatan dalam melafal kan kata-kata.
  • Diksi, pengucapan kata demi kata dengan tekanan yang bervariasi.
  • Jeda, pemenggalan sebuah kalimat dalam puisi.
  • Irama, panjang pendek, keras lembut, tinggi rendah nya suara.
  • Intonasi, lagu suara atau naik turunnya nada suara
  • Tempo, cepat lambatnya pengucapan (suara).
  • Dinamika, lemah kerasnya suara (setidaknya harus terdengar). 


  1. Tugas KD 4.17

Tulislah sebuah puisi karya Anda sendiri dengan ketentuan sebagai berikut:
  • Pilihan Tema (pilih salah satu): Keagungan Tuhan; Covid-19; Pembatasan Sosial; Tolong-Menolong; Peduli Sesama
  • Judul: antara 2 kata - 3 kata
  • Jumlah Baris: minimal 10 baris
  • Jumlah Bait: minimal 2 bait
  • Perhatikan huruf besar/kecil
  • Jangan menggunakan titik/koma/tanda seru/tanda tanya
  • Dilarang co-pas dari manapun (co-pas = nilai 0/nol)
  • Ditulis di buku tulis atau kertas selembar, lalu difoto dan kirimkan foto ke:
https://forms.gle/5fR65AZZw8iVYgXX8.




Batas waktu (Deadline) 

Penilaian Harian dan Pengiriman Tugas:

Kamis, 21 Mei 2020, pukul 18.00 WIB (jam 6 sore)







Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial




Hal Penting (Harus Diperhatikan) Ketika Membaca Puisi

Hal-hal yang harus diperhatikan ketika membaca puisi antara lain:


Volume dan Intonasi 

Membaca puisi termasuk kegiatan membaca indah. Keindahan membaca puisi tentunya tidak untuk di dengarkan pembacanya sendiri tetapi untuk dinikmati oleh orang lain. Karenanya, saat membaca puisi volume suara harus dapat terdengar oleh pendengar, selemah apapun volume itu.

Selain volume, intonasi juga sangat penting dalam membaca puisi. Intonasi yang tepat saat membaca puisi ini menunjukkan pemahaman pembacanya akan puisi yang dibaca. Puisi menjadi tidak datar dan terasa keindahannya.


Ekspresi Wajah/ Mimik

Pembaca puisi dapat dikatakan sebagai wakil penyair untuk menyampaikan pesan. Sehingga seorang pembaca puisi hendaknya memposisikan dirinya sebagai penyair. Pemahaman yang baik terhadap makna kata dalam puisi akan membantu pembaca puisi untuk mengekspresikan lewat guratan-guratan dan perubahan wajahnya. Karenanya, seorang pembaca puisi hendaknya mampu mengekspresikan setiap suasana puisi yang dibawakannya. Ia harus memahami bagaimana ekspresi wajah marah, sedih, gembira maupun kecewa.


Kinesik/ Kinestetik

Gerakan saat membaca puisi juga dapat membantu pembaca dalam menyampaikan pesan atau amanah puisi. Karena fungsi kinesik menekankan pesan yang disampaikan, maka gerakan tubuh yang muncul merupakan cerminan dari pemahaman pembaca dalam memaknai puisi. Sehingga kesan gerakan yang dibuat-buat tidak terlihat oleh pendengar ataupun pemirsa. 



 


Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca puisi selengkapnya adalah sebagai berikut :



  1. Ekspresi / mimikEkspresi adalah pernyaaan perasaan hasil penjiwaan puisi. sedang kan mimik adalah gerak air muka.
  2. KinesikKinesik adalah gerak angota tubuh
  3. ArtikulasiArtikulasi adalah ketepatan dalam melafal kan kata-kata.
  4. TimbreTimbre adalah warna bunyi suara (bawaan) yang di milikinya
  5. Irama, Irama adalah panjang pendek, keras lembut, tinggi rendah nya suara.
  6. Intonasi, adalah lagu suara atau naik turunnya nada suara
  7. DiksiPengucapan kata demi kata dengan tekanan yang bervariasi dan rasa.
  8. TempoCepat lambatnya pengucapan (suara). Kita harus pandai mengatur dan menyesuaikan dengan kekuatan nafas. Di mana harus ada jeda, di mana kita harus menyambung atau mencuri nafas.
  9. DinamikaLemah kerasnya suara (setidaknya harus sampai pada penonton, terutama pada saat lomba membaca puisi). Kita ciptakan suatu dinamika yang prima dengan mengatur rima dan irama, naik turunnya volume dan keras lembutnya diksi, dan yang penting menjaga harmoni di saat naik turunnya nada suara.
  10. ModulasiMengubah (perubahan) suara dalam membaca puisi.
  11. JedaPemenggalan sebuah kalimat dalam puisi.
  12. PernafasanBiasanya, dalam membaca puisi yang digunakan adalah pernafasan perut.
  13. PenampilanSalah satu factor keberhasilan seseorang membaca puisi adalah kepribadian atau performance diatas pentas. Usahakan terkesan tenang, tak gelisah, tak gugup, berwibawa dan meyakinkan (tidak demam panggung).
  14. KomunikasiPada saat kita membaca puisi harus bias memberikan sentuhan, bahkan menggetarkan perasaan dan jiwa penonton.
  15. KonsentrasiPemusatan pikiran terhadap isi puisi yang akan kita baca.





sumber:

https://baktimu.blogspot.com/2017/10/hal-hal-yang-perlu-diperhatikan-ketika.html

https://dwiayukusuma14.blogspot.com/2014/11/hal-yang-perlu-diperhatikan-dalam.html






Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial








Contoh Analisis Puisi Aku (Karya Chairil Anwar)


Aku


Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Chairil Anwar
Maret 1943


A. Makna Puisi ‘Aku’


Dengan membaca dan memahami makna puisi Aku karya Chairil Anwar, ada banyak hal yang bisa dipelajari. Khususnya, bagi generasi yang hidup di era kemerdekaan. Karena, pada generasi ini, tentu tidak pernah hidup dan mengalami secara nyata apa yang terjadi di era awal kemerdekaan Indonesia. Beberapa makna puisi Aku, di antaranya adalah :

  • Wujud kesetiaan dan keteguhan hati atas pilihan kebenaran yang diyakininya. Hal ini tercermin melalui dua kalimat di awal puisi tersebut, yakni “Kalau sampai waktuku 'Ku mau tak seorang kan merayu”
  • Keberanian dalam berjuang meskipun banyak resiko yang akan dihadapi. Termasuk resiko untuk kehilangan nyawa atau terluka karena senjata musuh. Inilah yang digelorakan oleh Chairil Anwar, yang tersurat pada bait ketiga puisi tersebut.
  • Semangat yang tak pernah padam. Sebagaimana yang dinyatakan melalui kalimat “aku mau hidup seribu tahun lagi”. Hal tersebut adalah cermin dan betapa semangat Chairil Anwar untuk berjuang, tidak ingin dibatasi oleh waktu


B.  Tema Puisi ‘Aku’


Tema pada puisi “Aku” karya Chairil Anwar adalah menggambarkan kegigihan dan semangat perjuangan untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan, dan semangat hidup seseorang yang ingin selalu memperjuangkan haknya tanpa merugikan orang lain, walaupun banyak rintangan yang ia hadapi. Dari judulnya sudah terlihat bahwa puisi ini menceritakan kisah ‘AKU’ yang mencari tujuan hidup.


C. Nada dan Suasana Puisi 'Aku'


a.)  Nada
Dalam puisi tersebut penulis menggambarkan nada-nada yang berwibawa, tegas, lugas dan jelas dalam penyampaian puisi ini, karena banyak bait-bait puisi tersebut menggandung kata perjuangan. Dan menggunanakan nada yang syahdu di bait yang terkesan sedikit sedih.

b.)  Suasana
Suasana yang terdapat dalam puisi tersebut adalah suasana yang penuh perjuangan, optimis dan kekuatan emosi yang cukup tinggi tetapi ada beberapa suasana yang berubah menjadi sedih karena dalam puisi tersebut menceritakan ada beberapa orang yang tak mengaangap perjuangannya si tokoh.





Baca selengkapnya di:

https://composhare.blogspot.com/2015/06/analisis-puisi-aku-karya-cahiril-anwar.html


Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial




Unsur Pembangun Puisi: Intrinsik dan Ekstrinsik (2)

Unsur-unsur Pembangun Puisi


Unsur Intrinsik Puisi (unsur di dalam puisi)


  • Tema adalah dasar atau pokok pikiran dalam membuat puisi.
  • Rasa adalah ungkapan atau sikap penyair dalam melihat pokok permasalahan.
  • Nada adalah cara penyampaian atau pembacanya (dipengruhi tanda baca), misalnya: menggurui, mendikte, sombong, angkuh, dll.
  • Amanat/ tujuan/ maksud adalah pesan dari penyair yang terkandung dalam puisi tersebut.
  • Gaya bahasa adalah sifat yang terkandung akibat pemilihan kata, misalnya: konotatif, berlebihan, merendahkan diri sendiri, dll.
  • Rima adalah kesamaan nada atau bunyi pada setiap baris
  • Tipografi adalah gaya/bentuk penulisan, baik berupa baris, zigzag, menyerupai objek, dll.
  • Imaji adalah pencitraan yang dijelaskan dalam pemilihan kata, sehingga mampu menggugah rasa imajinasi dari pembaca.
  • Kata konkret adalah pemilihan kata-kata sehingga mampu memberikan kesan wujud sesuatu, terkesan bisa terlihat, disentuh, dll.





Unsur Ekstrinsik Puisi (unsur di luar puisi)



  • Unsur biografi adalah cara pandang pengarang berdasarkan latar belakang pendidikan atau faktor lain, misalnya kemiskinan, kaya raya, dll.
  • Unsur Sosial adalah lingkungan yang memengaruhi terhadap perasaan penulis pada saat membuat puisi.
  • Unsur Nilai yang memengaruhi baik atau buruknya suatu puisi, terdiri dari: pendidikan, ekonomi, politik, budaya, adat-istiadat, hukum, sosial, seni, dll







Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial


https://www.penuliscilik.com/unsur-pembangun-puisi/


Unsur Pembangun Puisi: Intrinsik dan Ekstrinsik (1)

Unsur-Unsur Pembangun Puisi


Unsur Intrinsik Puisi



  • Unsur Tema, Tema merupakan gagasan pokok atau ide yang menjadi dasar suatu puisi. Setiap puisi memiliki banyak hal yang dibahas, namun pasti mempunyai satu topik utama dari pembahasan tersebut. Topik utama itulah yang disebut dengan sebuah tema.
  • Unsur Suasana ( Latar ), Suasana merupakan unsur dalam pemikiran dan perasaan penyair yang mampu membuat suatu suasana terhadap pembaca atau pendengar setelah membaca atau mendengar suatu puisi. Suasana merupakan akibat yang ditimbulkan kepada pembaca atau pendengar. Suasana yang ditimbulkan seperti gembira, sedih, terharu dan lain-lain. Semakin tersampaikannya suasana tersebut kepada pembaca atau pendengar maka semakin bagus pula puisi tersebut.
  • Unsur Imaji, Imaji merupakan suatu gambaran yang ditimbulkan ketika membaca puisi tersebut. Gambaran yang dimaksud dapat menyentuh pembaca atau pendengar yang melalui indra manusia, pendengar, penglihatan, perabaan dan lain-lain. Tujuan adanya Imaji yaitu supaya pembaca atau yang mendengarkan dapat mampu untuk memahami dan benar-benar mengerti makna dari puisi tersebut. Imaji biasanya dikategorikan kepada beberapa citraan, yaitu : citraan penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, pengecapan, gerak, perasaan dan intelektual.
  • Unsur Simbol ( Lambang ), Simbol atau lambing merupakan unsur puisi yang menyatakan bahwa kata-kata dalam puisi dapat saja merupakan suatu lambang untuk maksud dan tujuan yang lain. Misalnya “ Hati Yang Terbuat Dari Baja ” dari kata “ Baja ” dalam baris puisi tersebut dapat melambangkan atau menjadi symbol kekuatan yang sulit untuk dipecahkan.
  • Unsur Musikalitas Puisi ( Nada/Bunyi ), Dalam sebuah puisi disusun diatas kata-kata tertentu yang penuh makna dan juga indah untuk dapat didengar. Kata-kata tersebut berfungsi terhadap keseluruhan makna yang terdapat dalam puisinya. Musikalitas puisi yang dimaksud ialah penyusunan kata-kata yang bermakna, indah dan juga menarik di dengar bunyinya sehingga menarik bagi pembaca atau pendengar puisi tersebut.
  • Unsur Gaya Bahasa, Dasar dari suatu susunan puisi ialah bahasanya. Setiap penyair memiliki gaya bahasa yang berbeda-beda, gaya bahasa ini menjadi pilihan penyair sesuai dengan pikiran dan perasaan saat membuat puisi tersebut. Ada beberapa hal yang menyebabkan perbedaan pemilihan kata pada puisi, diantaranya ialah bedanya zaman, pengalaman hidup penyair, perbedaan tempat budaya, dan lain-lain.
  • Unsur Amanat, Setiap makna mempunyai makna tertentu, oleh karena itu puisi yang baik memiliki amanat yang hendak disampaikan. Amanat merupakan pesan dari penyair kepada pembaca atau pendengar setelah memahami tema, makna, bunyi dan makna dalam puisi tersebut. Amanat dalam suatu puisi biasanya disampaikan secara tersirat, jadi kita harus sangat memahamu puisi tersebut dengan benar agar mendapatkan amanat penyair tersebut.


Unsur Ekstrinsik Puisi


Unsur ekstrinsik merupakan unsur pada penyair yang tidak berhubungan secara langsung dengan puisi tersebut. Artinya unsur ekstriksi ialah unsur di luar puisi, antara lain, yaitu:

  • Keadaan sosial penyair
  • Lingkungan penyair
  • Profesi penyair
  • Pengalaman penyair
  • Kondisi ekonomi penyair
  • Peran penyair dalam masyarakat
  • dll.







Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial


https://www.dosenpendidikan.co.id/pengertian-puisi/


Majas: Perbandingan, Pertentangan, Perulangan, dan Pertautan

Majas


Majas merupakan salah satu unsur fisik pembangun dalam puisi yang sejatinya termasuk dalam gaya bahasa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan majas atau disebut juga dengan kiasan adalah cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesuatu yang lain.


Para penyair banyak menggunakan majas dalam karya-karya pusinya dikarenakan majas memiliki beberapa kelebihan, yaitu sebagai berikut.


  • Majas dapat memberikan kesenangan imajinatif.
  • Majas memberikan imaji tambahan dalam puisi.
  • Majas membuat sesuatu yang abstrak dalam puisi menjadi lebih konkret.
  • Majas merupakan cara penyair mengekspresikan perasaan dan sikapnya.
  • Melalui majas, makna yang akan disampaikan menjadi lebih terkonsentrasikan.
  • Melalui majas, sesuatu dapat disampaikan dengan tepat dengan bahasa yang singkat.



Terdapat macam-macam majas yang kerap digunakan dalam puisi yaitu majas perbandingan, majas pertentangan, majas perulangan, dan majas pertautan.



a. Majas perulangan


  • Repetisi adalah majas yang menggunakan kata, frasa atau klausa yang sama secara berulang. Contoh majas repetisi : Kau datang dan pergi semaumu, datang lagi, pergi lagi, datang lagi pergi lagi. 
  • Aliterasi adalah majas yang mengulang konsonan pada awal kata secara berurutan. Contoh majas aliterasi : Bukan beta bijak berperi.


b. Majas pertentangan


  • Ironi adalah majas yang digunakan untuk menyembunyikan fakta yang sebenarnya dengan tujuan untuk memberikan sindiran. Contoh majas ironi : Rumah ini rapi sekali hingga saya susah sekali untuk duduk.
  • Hiperbola adalah majas yang digunakan untuk mengungkapkan suatu kenyataan secara berlebihan sehingga menjadi tidak masuk akal. Contoh majas hiperbola : Air matanya terkuras habis meratapi kepergian kekasihnya.
  • Litotes adalah majas yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu fakta dengan cara mengecilkan fakta tersebut dengan tujuan untuk merendahkan diri. Contoh majas litotes : Jika berkenan, mampirlah ke gubuk kami sebentar.


c. Majas pertautan


  • Eufemisme adalah majas yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu secara lebih halus menggantikan ungkapan yang dirasa cukup kasar, merugikan, dan tidak menyenangkan. Contoh majas eufemisme : Tunanetra merupakan bentuk halus dari buta.
  • Sinekdoke adalah majas yang menyebutkan nama keseluruhan sebagai pengganti nama bagian atau sebaliknya. Contoh majas sinekdoke : Kata-katanya menyakiti hatiku.
  • Metonimia adalah majas yang menggunakan nama benda atau yang lainnya untuk menyatakan sesuatu yang berkaitan dengan benda tersebut. Contoh majas metonimia : Peristiwa bangkrutnya Merpati menunjukkan buruknya manajemen perusahaan itu.


d. Majas perbandingan


  • Metafora adalah majas perbandingan yang dilakukan untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara membandingkan dua hal yang berbeda secara implisit. Contoh majas metafora : Bunga desa itu pergi.
  • Alegori adalah majas perbandingan yang dilakukan untuk menyatakan sesuatu dengan cara kiasan atau penggambaran. Contoh majas alegori : Hidup kita bagaikan rollercoaster, kadang naik kadang turun.
  • Personifikasi adalah majas perbandingan yang menyematkan sifat-sifat manusia pada benda tak bernyawa atau ide yang abstrak. Umumnya majas jenis ini digunakan untuk memberikan gambaran serta citra yang konkret. Contoh majas personifikasi : Daun-daun berbisik ditiup angin.
  • Simile adalah majas perbandingan yang dilakukan untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara membandingkannya dengan sesuatu yang lain yang dianggap sama secara eksplisit. Contoh majas simile : Wajahnya bersemu merah bagai buah delima.




Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial


https://dosenbahasa.com/unsur-unsur-pembangun-dalam-puisi


Materi Teks Puisi: Pengertian, Unsur-Unsur, Ciri-Ciri, Jenis, Struktur, dan Kaidah Kebahasaan

Pengertian Puisi


Pengertian Puisi Secara Umum


Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang terikat oleh irama, rima dan penyusun baris dan bait yang bahasanya nampak indah dan penuh dengan makna.

Puisi lama adalah suatu karya sastra yang masih terikat oleh aturan-aturan tertentu dalam pembuatannya. Aturan yang dimaksud antara lain: jumlah kata dalam satu baris; jumlah baris dalam satu bait; rima (persajakan); banyaknya suku kata dalam setiap baris; dan irama.

Puisi baru adalah salah satu karya sastra yang tidak terikat dengan aturan-aturan tertentu dalam pembuatannya sehingga lebih bebas bentuknya dibandingkan puisi lama, baik dalam segi jumlah suku kata, baris maupn sajaknya.

Puisi rakyat adalah kesusastraan rakyat yang bentuknya sudah ditentukan, biasanya terdiri dari beberapa deret kalimat, ada juga yang berdasarkan mantra, dan ada yang berdasarkan panjang pendek suku kata, lemah tekanan suara, atau juga hanya berdasarkan irama.


Pengertian Puisi Menurut Para ahli


1. Kamus Istilah Sastra (Sudjiman, 1984)

Puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, rima, matra, serta penyusunan larik dan bait.

2. Watt-Dunton (Situmorang, 1980:9)

Puisi adalah ekspresi yang kongkret atau nyata dan bersifat artistik dari dalam pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.

3. Carlyle

Puisi adalah pemikiran yang bersifat musikal, kata-katanya disusun sedemikian rupa, sehingga menonjolkan rangkaian bunyi yang merdu seperti halnya musik.

4. Samuel Taylor Coleridg

Puisi adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah.

5. Ralph Waldo Emerson (Situmorang, 1980:8)

Mengatakan puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin.

6. Putu Arya Tirtawirya (1980:9) 

Puisi merupakan ungkapan secara samar dan implisit, dengan makna yang tersirat, di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.

7. Herman J. Waluyo

Puisi adalah suatu bentuk karya sastra yang mengungkapkan perasaan dan pikiran sang penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.


Unsur-Unsur Puisi

  • Kata: unsur utama terbentuknya sebuah puisi. Pemilihan kata (diksi) yang tepat menentukan keutuhan dan kesatuan unsur-unsur yang lain.
  • Larik/Baris: larik bisa berupa satu kata saja, bisa frase, bisa juga seperti sebuah kalimat. Dalam puisi lama, jumlah kata dalam sebuah larik biasanya empat bait, sebaliknya pada puisi baru tidak ada batasan.
  • Bait: kumpulan larik yang tersusun harmonis.
  • Bunyi: dibentuk oleh irama dan rima. Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh kata-kata atau huruf dalam larik dan bait. Sedangkan irama (ritme) adalah panjang pendek, tinggi rendah, dan keras lembut ucapan bunyi.
  • Makna adalah unsur tujuan dari diksi, pembentukan bait dan larik. Makna juga bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut.


Struktur Puisi

A. Struktur Fisik Puisi (Metode Puisi)

  • Perwajahan puisi (tipografi): bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi oleh kata-kata, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik.
  • Diksi: pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh seorang penyair dalam puisinya.
  • Imaji: susunan kata-kata atau kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penghilatan, perasaan, dan pendengaran. Imaji dapat dibagi tiga, yakni imaji suara, imaji penglihatan, dan imaji raba atau sentuh.
  • Kata kongkret: kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji.
  • Bahasa figuratif: bahasa berkias yang dapat menghidupkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu.
  • Versifikasi: menyangkut ritme, rima dan metrum.

B. Struktur Batin Puisi (Hakikat Puisi)

  • Tema/makna (sense): media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, puisi harus bermakna, baik makna tiap baris, bait, kata maupun makna secara keseluruhan.
  • Rasa (feeling): merupakan sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisi.
  • Nada (tone): sikap penyair terhadap pembacanya.
  • Amanat/Maksud/Tujuan (intention): ada tujuan yang mendorong penyair untuk menciptakan puisi.


Ciri-ciri Puisi

A. Ciri-ciri Puisi Lama

  • Anonim: tidak diketahui siapa pengarangnya.
  • Terikat jumlah baris, irama dan rima.
  • Merupakan kesusastraan lisan.
  • Gaya bahasanya klise dan statis (tetap).
  • Isinya fantastis dan istanasentris

B. Ciri-ciri Puisi Baru

  • Diketahui siapa pengarangnya
  • Tidak terikat jumlah baris, rima dan irama.
  • Berkembang secara tertulis dan lisan.
  • Gaya bahasa dinamis (berubah-ubah).
  • Isinya tentang kehidupan pada umumnya.

C. Ciri-ciri Puisi Secara Umum

  • Diksi bersifat kias
  • Diksi yang digunakan untuk mempertimbangkan adanya persajakan atau rima.
  • Padat dan indah
  • Berbentuk bait
  • Penggunaan majas yang sangat dominan


Jenis-jenis Puisi

A. Jenis-jenis Puisi Lama

  • Mantra: sebuah ucapan yang masih dianggap mempunyai kekuatan ghaib.
  • Pantun: salah satu puisi lama yang memiliki ciri bersajak a-b-a-b. (baca: pengertian pantun dan contohnya)
  • Karmina: salah satu jenis pantun yang kilat/sangat pendek.
  • Seloka: pantun yang berkait. (baca: pengertian seloka dan contohnya)
  • Gurindam: puisi yang terdiri dari tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, dan biasanya terdapat nasihat. (baca: pengertian gurindam dan contohnya) 
  • Syair: puisi yang asalnya dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, dan biasanya berisi nasihat atau sebuah cerita. (baca: pengertian syair dan contohnya)
  • Talibun: pantun genap yang tiap bait terdiri dari bilangan genap, misalnya 10,8, atau 6 baris.

B. Jenis-jenis Puisi Baru

  • Balada: salah satu jenis puisi baru tentang cerita.
  • Himne: puisi yang digunakan sebagai pujaan untuk Tuhan, seorang pahlawan, atau tanah air.
  • Ode: puisi berisi sanjungan bagi orang yang jelah berjasa.
  • Epigram: puisi yang mempunyai isi berupa ajaran hidup atau tuntunan.
  • Romansa: puisi yang isinya mengenai luapan perasaan seorang penyair tentang cinta kasih.
  • Elegi: puisi yang mempunyai isi tentang keadilan.
  • Satire: puisi yang berisi tentang sindiran atau kritikan
  • Distikon: puisi yang tiap baitnya terdiri dari 2 baris/puisi 2 seuntai.
  • Terzina: puisi yang ada tiap baitnya terdiri dari 3 baris/puisi 3 seuntai.
  • Kuatrain: puisi pada tiap baitnya terdiri dari 4 baris/puisi 4 seuntai.
  • Kuint: puisi pada tiap baitnya terdiri dari 5 baris
  • Sektet: puisi pada tiap baitnya terdiri dari 6 baris
  • Septime: puisi pada tiap baitnya terdiri dari 7 baris.
  • Oktaf atau Stanza: puisi yang tiap baitnya terdiri dari 8 baris.
  • Soneta: puisi yang terdiri dari 14 baris yang terbagi menjadi 2, dua bait pertama masing-masing terdiri dari 4 baris dan dua bait kedua masing-masing 3 baris.


Kaidah/Ciri Kebahasaan Puisi

  • Pemadatan bahasa: membuat kata-kata dalam puisi seakan bernyawa sehingga mampu untuk menyihir pembaca.
  • Pemilihan kata khas: agar puisinya lebih bermakna. Faktor yang harus dipertimbangkan adalah makna kias, persamaaan bunyi (rima), lambang.
  • Kata konkret: keinginan penyair untuk menggambarkan sesuatu secara lebih berwujud atau konkret.
  • Pengimajian: dapat berupa kata ataupun rangkaian kata-kata yang bisa memperjelas sesuatu yang ingin disampaikan penyair karena menggugah rasa imajinasi pembaca.
  • Irama (ritme): dalam puisi sering kita jumpai pengulangan kata, frasa, bunyi maupun kalimat.
  • Tata wajah (tipografi): sebagai penyair menganggap tata wajah sebagai unsur puisi yang paling penting.
Sumber: 
https://www.materibindo.com/2018/05/puisi-lengkap.html
Referensi: 


Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial







Informasi Populer

Informasi LN

Informasi DN

Informasi Ragam

Informasi Lengkap Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK)
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Gunakanlah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ini untuk mengecek kosakata baku!
Buku Pelajaran Elektronik Online
Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdiknas

BSE MAHONI BSE MAHONI